Jumat 28 Oct 2022 07:26 WIB

5 Hikmah di Balik Syariat Puasa, Termasuk Bentuk Perlawanan Terhadap Setan

Puasa memberikan dampak positif dari aspek syariat dan medis bagi pelakunya

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi Berpuasa. Puasa memberikan dampak positif dari aspek syariat dan medis bagi pelakunya
Foto: Pixabay
Ilustrasi Berpuasa. Puasa memberikan dampak positif dari aspek syariat dan medis bagi pelakunya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dalam Islam ada banyak jenis puasa, baik itu yang sifatnya wajib maupun sunnah. Puasa merupakan salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah untuk mencapai ketakwaan.  

Jamal Muhammad Az-Zaki dalam buku Sehat dengan Ibadah menjabarkan lima hikmah yang muncul apabila seseorang menjalankan puasa, antara lain:  

Baca Juga

Pertama, puasa merupakan sarana mensyukuri nikmat sebab berpuasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan melakukan hubungan suami istri. Sementara makan, minum, dan sebagainya itu yang dilarang dalam puasa, termasuk nikmat yang besar. 

Maka menahan diri darinya dalam sementara waktu membuat pelakunya mengetahui kadar nikmat tersebut. 

 

Manusia tidak dapat merasakan nilai nikmat kecuali ketika dia kehilangan nikmat tersebut. Maka hal ini mendorongnya untuk bersyukur kepada pemberi nikmat.  

Dan bersyukur merupakan kewajiban secara syariat maupun akal. Allah SWT mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya di surat Al Baqarah ayat 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al Baqarah ayat 185).    

Kedua, puasa merupakan sarana menuju ketakwaan. Karena jika jiwa tunduk untuk menahan diri dari perkara yang halal dengan tujuan mengharap keridhaan Allah SWT dan takut dari siksa-Nya yang pedih, maka tentu ia lebih tunduk untuk meninggalkan perkara yang haram.  

Maka puasa menjadi sebab menjauhkan diri dari perkara-perkara yang diharamkan Allah SWT. Sesungguhnya puasa itu adalah kewajiban.  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement