Senin 24 Oct 2022 13:22 WIB

Muslim dan Kristen Calabar Nigeria Tukar Pikiran tentang Toleransi Beragama

Peserta yang hadir bersatu dalam seruan untuk perdamaian dan persatuan di Nigeria.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah
Pria Muslim Nigeria shalat pada hari pertama bulan suci Ramadhan, di masjid Pusat di Lagos, Nigeria, Selasa (13/4). Muslim dan Kristen Calabar Nigeria Tukar Pikiran tentang Toleransi Beragama
Foto: AP / Sunday Alamba
Pria Muslim Nigeria shalat pada hari pertama bulan suci Ramadhan, di masjid Pusat di Lagos, Nigeria, Selasa (13/4). Muslim dan Kristen Calabar Nigeria Tukar Pikiran tentang Toleransi Beragama

REPUBLIKA.CO.ID, CALABAR -- Para pemimpin agama Muslim dan Kristen Calabar, termasuk para pemimpin agama tradisional, berkumpul di markas internasional Persaudaraan Salib dan Bintang (BCS) akhir pekan lalu.

Bertemunya berbagai pihak ini dilakukan untuk bertukar pikiran tentang bagaimana meningkatkan toleransi beragama dan mendorong perdamaian, di antara berbagai badan agama dan suku di Nigeria.

Baca Juga

Acara yang diselenggarakan oleh Inter-Religious Mega Conference of the BCS ini dihadiri oleh Syekh Imam Salih Animashaun, yang pernah menjabat sebagai Ketua Imam Masyarakat Mahasiswa Muslim, serta HRM, Pengacara Evans Nwansi, dari negra bagian Imo.

Peserta lainnya adalah pendiri Heaven Concern Deliverance Ministry di Agbor, negara bagian Delta, Dr. Amaechi Ogbeje, serta profesor filsafat agama dan dosen di departemen studi agama Universitas Uyo Protus Nathan Uzorma.

 

Dilansir di Blue Print Nigeria, Senin (24/10/2022), para peserta yang hadir bersatu dalam seruan untuk perdamaian dan persatuan di antara banyak suku, kepercayaan dan ras. Mereka mengatakan Nigeria, dengan banyak suku dan keyakinan agamanya, lebih baik tetap bersama.

Ketua International Organizing Committee, Uskup Agung Emmanuel A. Ekuri, yang juga seorang akademisi, berbicara kepada wartawan sesaat selama acara tersebut. “Acara selama akhir pekan ini menampilkan tiga hari penting Kunjungan Injili intensif kepada pemimpin Kerajaan, personel militer atas, pejabat pemerintah dan Perang Salib Kota Metropolitan Calabar selama 3 hari bagi orang-orang untuk memanfaatkan Injil Abadi yang disampaikan oleh Pemimpin Olumba Olumba Obu," ujar dia.

Ia juga mengatakan acara tersebut untuk meletakkan dasar yang kuat bagi peremajaan semangat integratif persatuan, toleransi, cinta dan persaudaraan. Ekuri menyatakan tema acara yang diangkat adalah 'Kita semua yang kita butuhkan, kita lebih baik bersama-sama'. Hal ini seolah menuntut manusia tentang keharusan kesatuan seluruh ciptaan Tuhan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement