Selasa 06 Sep 2022 19:30 WIB

Masjid di Hotel Jadi Nilai Tambah Tingkatkan Pariwisata Ramah Muslim

Pelayanan prima menjadi standar yang mendasar dalam pariwisata.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko
Sejumlah pengunjung berada di area bazar Pesona Khazanah Ramadhan 2021 yang digelar di Islamic Center NTB di Mataram, NTB, Kamis (22/4/2021). Pesona Khazanah Ramadhan sebagai acara tahunan pariwisata NTB selama bulan Ramadhan tersebut mengangkat tema pengembangan ekonomi kreatif yang bertujuan untuk mengenalkan dan membuka kembali pasar hasil kerajinan dan produk lokal asli NTB di tengah pandemi COVID-19.
Foto: AHMAD SUBAIDI/ANTARA
Sejumlah pengunjung berada di area bazar Pesona Khazanah Ramadhan 2021 yang digelar di Islamic Center NTB di Mataram, NTB, Kamis (22/4/2021). Pesona Khazanah Ramadhan sebagai acara tahunan pariwisata NTB selama bulan Ramadhan tersebut mengangkat tema pengembangan ekonomi kreatif yang bertujuan untuk mengenalkan dan membuka kembali pasar hasil kerajinan dan produk lokal asli NTB di tengah pandemi COVID-19.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI Guntur Subagja Mahardika mengatakan, keberadaan masjid di hotel, restoran, maupun mal, itu menjadi nilai tambah dalam meningkatkan pariwisata ramah Muslim. Dia menyampaikan, aspek yang terkait dengan ibadah memiliki daya tarik bagi industri pariwisata ramah Muslim.

"Jadi bagaimana pariwisata ramah Muslim ini tinggal kita pertajam, kita kemas menjadi satu produk yang menarik bagi wisatawan mancanegara," kata dia dalam agenda Focus Group Discussion (FGD) daring bertajuk 'Penguatan Regulasi dan Standarisasi Pariwisata Ramah Muslim di Indonesia', yang digelar Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (DEKS-BI), Selasa (6/9/2022).

Baca Juga

Guntur menekankan, pelayanan prima menjadi standar yang mendasar dalam pariwisata. Karena itu, pariwisata ramah Muslim harus mengedepankan pelayanan prima dan mengusung nilai-nilai etika. Terlebih di Indonesia terdapat berbagai potensi pariwisata ramah Muslim. Antara lain ialah kuliner, destinasi, pariwisata spiritual, seni dan budaya Islam, fasyen, gaya hidup, ekonomi kreatif dan lainnya.

"Indonesia sudah memiliki semua pariwisata ramah Muslim. Misalnya kita punya situs-situs bersejarah dari Aceh sampai Papua, yang menceritakan story tentang kebangkitan Islam dan monumen yang bisa dijadikan sebagai destinasi wisata atau complement dalam industri wisata," paparnya.

Ketua Tim Peneliti dari Enhaii Halal Tourism Center Politeknik NHI Bandung, Anang Sutono menjelaskan, ini adalah FGD pertama dari total lima FGD yang akan digelar DEKS-BI dalam mengakselerasi pengembangan pariwisata ramah Muslim. FGD ini menjadi rangkaian acara menuju International Muslim Friendly Tourism Conference. Konferensi internasional ini sendiri akan digelar pada 7 Oktober mendatang dalam rangka penyelenggaraan Indonesia Sharia Economy Festival ke-9 selama 5 hari, pada 5-9 Oktober 2022.

Anang menjelaskan, pariwisata ramah Muslim merupakan seperangkat layanan tambahan amenitas, atraksi dan aksesibilitas. Layanan ini ditujukan dan diberikan untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan pengalaman wisatawan Muslim. Untuk itu, ada beberapa usulan rancangan resolusi untuk pariwisata ramah Muslim. Pertama, kata dia, memastikan kehadiran regulasi yang terkait dengan panduan penyelenggaraan pariwisata ramah Muslim.

Kedua, mendorong regulasi tentang indikator pariwisata ramah Muslim sebagai instrumen penilaian. Ketiga, mendorong strategi penguatan indeks daya saing pariwisata ramah Muslim. Keempat, memastikan terwujudnya inovasi dan kreasi produk yang mendukung pariwisata ramah Muslim.

Kelima, terselenggaranya strategi peningkatan jumlah dan kualitas kunjungan wisatawan Muslim. Kemudian keenam yaitu adanya strategi akselerasi peningkatan kualitas industri pariwisata ramah Muslim. "Nilai destinasi pariwisata ini memiliki manfaat ekonomi, sosial dan budaya, lingkungan, pengalaman, dan juga pengetahuan," tuturnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement