Rabu 08 Jun 2022 10:05 WIB

Cara Orang Mukmin Mencintai Allah SWT Menurut Syekh Ibnu Athaillah

Allah SWT mencintai hamba-hambanya yang mukmin alia percaya kpadaa

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah
Sejumlah umat Islam mengikuti sholat tarawih 30 juz semalam suntuk di Masjid Al Insani Kompleks Anggrek Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (27/4/2022) dini hari. Tarawih 30 juz semalam suntuk tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan ibadah pada bulan Ramadhan khususnya pada 10 malam terakhir untuk mencari keberkahan malam lailatur Qadar.
Foto: ANTARA/Yusran Uccang
Sejumlah umat Islam mengikuti sholat tarawih 30 juz semalam suntuk di Masjid Al Insani Kompleks Anggrek Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (27/4/2022) dini hari. Tarawih 30 juz semalam suntuk tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan ibadah pada bulan Ramadhan khususnya pada 10 malam terakhir untuk mencari keberkahan malam lailatur Qadar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Seorang Muslim dapat dikatakan Mukmin jika dia dapat mencintai Allah SWt. Lantas bagaimana orang Mukmin mencintai Allah SWT?  

Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam menjelaskan, orang Mukmin yang sempurna adalah Mukmin yang selalu disibukkan oleh puji-pujian terhadap sifat-sifat indah Allah SWT sehingga dia tidak bangga dengan sifat-sifat baik dirinya. 

Baca Juga

Orang Mukmin juga sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban dirinya kepada Allah SWT sehingga tidak lagi ingat pada kepentingannya sendiri. Menurut Ibnu Athaillah: 

لَيْسَ الْمُحِبُّ الَّذِي يَرْجُوْ مِنْ مَحْبُوْبِهِ عِوَضاً أوْ يَطْلُبُ مِنْهُ غَرْضاً.فَإِنَّ الْمُحِبَّ مَنْ يَبْذُلُ لَكَ لَيْسَ الْمُحِبُّ مَنْ تَبْذُلُ لَهُ

 

 "Laysal-muhibbulladzi yarjuu min mahbubihi ‘iwadhan wa yathlubu minhu ghardhan, fa innal-muhibba man yabdzulu laka, laysal-muhibbu man tabdzulu lah. "  

Yang artinya, "Pencinta sejati bukanlah orang yang berharap imbalan atau upah dari keikhlasannya. Pencinta sejati adalah orang yang mau berkorban untukmu, bukan yang menuntut pengorbanan darimu." 

Sehingga menurut pandangan Ibnu Athaillah, Mukmin yang sejati tidak akan menisbatkan perbuatan baik dan kondisi batin yang dialaminya kepada dirinya sendiri dan tidak pernah memandang dirinya atau mengagungkannya.  

Mukmin sejati merupakan Mukmin yang merasa hampa dari semua perbuatan dan kondisi batin karena menisbatkannya kepada pelaku sesungguhnya dan sumber utamanya, yakni Allah SWT. Mukmin sejati juga lebih disibukkan oleh menunaikan hak-hak Allah SWT daripada menunaikan hak-hak dirinya.  

Bahkan dia tidak pernah mengingat keuntungan pribadinya sama sekali. Dia menyembah Allah karena Dzat-Nya, bukan karena mengharap surga-Nya atau ingin selamat dari neraka-Nya.  

Tanda mencintai Allah SWT?

Dalam kitab Raudhah Al-Muhibbin karya Ibnu Qayyim Al-Jauzi disebutkan, jika seorang hamba mencintai sesuatu atau seseorang yang juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka cintanya adalah cinta yang terpuji dan mendatangkan pahala. 

Salah satu tanda mencintai Allah adalah dengan mencintai orang-orang yang cintanya kepada Allah serta Rasul-Nya sangatlah besar. Tanda lainnya adalah mereka yang mencintai Alquran, hati dan jiwanya jatuh cinta kepada makna-makna dan kandungan yang ada di dalam Alquran.

Bukanlah tanda bagi orang-orang yang mencintai Allah apabila ia tidak mencintai Alquran. Ibnu Qayyim Al-Jauzi bahkan menuliskan syair tentang tanda-tanda orang yang mencintai Allah.

Jika kau mengaku mencintai-Ku (Allah)

Mengapa kau hindari Kitab-Ku (Alquran)?

Jika begitu, kau telah menghayalkan,

Kandungannya yang penuh nikmat.

Tak hanya tanda-tanda tersebut, selalu mengingat Allah dengan berdzikir dan berdoa juga merupakan bagian dari tanda-tanda orang yang mencintai Allah SWT. Orang yang mencintai Allah juga dapat terlihat dengan bagaimana ia mencintai ilmu dan mendermakan ilmunya hanya untuk kebaikan dan diniatkan atas Allah SWT.    

 

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement