Rabu 18 May 2022 15:36 WIB

Serangan di Pemakaman Jurnalis Aljazirah, RS Saint Joseph French Gugat Polisi Israel

Serangan itu menyebabkan puluhan pelayat terluka, termasuk petugas rumah sakit.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
 Sebuah mural terbunuhnya jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh menghiasi dinding, di Kota Gaza, Minggu, 15 Mei 2022. Abu Akleh ditembak dan dibunuh saat meliput serangan Israel di kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki pada 11 Mei 2022. Serangan di Pemakaman Jurnalis Aljazirah, RS Saint Joseph French Gugat Polisi Israel
Foto: AP/Adel Hana
Sebuah mural terbunuhnya jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh menghiasi dinding, di Kota Gaza, Minggu, 15 Mei 2022. Abu Akleh ditembak dan dibunuh saat meliput serangan Israel di kota Jenin di Tepi Barat yang diduduki pada 11 Mei 2022. Serangan di Pemakaman Jurnalis Aljazirah, RS Saint Joseph French Gugat Polisi Israel

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Rumah Sakit Prancis Yerusalem akan menuntut Polisi Israel atas serangan brutal terhadap pemakaman jurnalis veteran Palestina Shireen Abu Akleh. Serangan itu menyebabkan puluhan pelayat terluka, termasuk petugas rumah sakit.

 

Baca Juga

Rumah Sakit Prancis di Yerusalem mengumumkan rencana menuntut polisi Israel setelah pasukan Israel menyerbu gedung-gedung utama dan mengintimidasi pelayat di pemakaman koresponden Aljazirah Shireen Abu Akleh pada Jumat lalu.

Direktur rumah sakit Jamil Koussa mengatakan, Selasa (17/5/2022), saat ini ia sedang mengumpulkan dokumen dan foto yang mendokumentasikan serangan Israel terhadap pelayat. Setelah bukti terkumpulkan, laporan penuntutan akan segera dibuat.

 

"Pasukan Israel terus memukul dan menggunakan kekerasan terhadap para pelayat yang tidak menimbulkan bahaya bagi mereka. Israel melanggar semua hukum kemanusiaan. Rumah sakit tidak akan mentoleransi polisi Israel, terlepas dari hasilnya," kata Koussa, dilansir dari Al Araby, Rabu (18/5/2022).

Pada Jumat (13/5/2022) lalu, puluhan polisi Israel memukul dan menembakkan peluru karet ke pelayat Palestina saat mereka menghadiri pemakaman Abu Akleh. Abu Akleh terbunuh beberapa hari sebelumnya oleh peluru tentara Israel, ketika jurnalis Aljazirah itu meliput bentrokan di Jenin di Tepi Barat utara.

 

Israel belum bertanggung jawab atas kematiannya dan malah menyerukan penyelidikan bersama Israel-Palestina. Tentu saja, Palestina menolak ajakan tersebut. 

 

Ribuan warga Palestina bergegas mengambil bagian dalam pemakaman Abu Akleh di berbagai kota Palestina pekan lalu, termasuk Jenin, Nablus, dan Ramallah. Pada Kamis, jenazah Abu Akleh tiba di Yerusalem, kampung halamannya. Namun, menjelang pemakaman dimulai, polisi Israel memanggil Tony Abu Akleh, saudara laki-laki Shireen, memintanya untuk tidak mengibarkan bendera atau spanduk Palestina melawan Israel.

 

Abu Akleh mengatakan dalam pernyataan pers yang disiarkan televisi bahwa ia tidak dapat mengendalikan massa yang akan berpartisipasi dalam pemakaman. Ketika pelayat meninggalkan rumah sakit membawa peti mati Abu Akleh, puluhan pasukan polisi Israel menyerbu halaman rumah sakit dan menembakkan granat kejut sambil menyerang pelayat secara fisik, memaksa mereka mundur.

 

Warga Palestina setempat membagikan sejumlah video dan foto di media sosial, yang semuanya menyoroti penggunaan kekerasan parah terhadap pengusung jenazah. Serangan mengakibatkan cedera pada beberapa dari mereka.

 

Direktur rumah sakit menjelaskan bahwa sebagian besar pelayat cedera berasal dari peluru karet yang mengenai wajah dan mata. Ia menekankan akan bekerja keras untuk meminta pertanggungjawaban polisi Israel dan menghukum sesegera mungkin sehingga mereka berhenti melanggar hukum di masa depan.

 

Seorang pemuda dari Yerusalem, Bahaa al-Khatib termasuk di antara pelayat yang terluka oleh peluru karet yang ditembakkan oleh polisi Israel. Tetapi ia bersikeras tetap berada di pemakaman sampai mencapai tujuan akhir, kuburan tempat Abu Akleh dimakamkan.

 

Al-Khatib mengatakan, tujuan utama serangan Israel di hari pemakaman itu bukanlah untuk mencegah pemakaman Shireen, tetapi untuk mencegah mereka membawa bendera Palestina. Tetapi, itu adalah pengumuman Palestina kepada dunia bahwa Palestina akan terus membawa bendera nasional mereka sebagai identitas negara, tidak peduli bagaimana Israel mencoba untuk menghilangkannya.

 

“Kehadiran sejumlah peserta di pemakaman Shireen adalah pesan yang jelas kepada Israel bahwa itu akan berakhir suatu hari dan bahwa orang-orang Palestina tidak dan tidak akan menyerahkan tanah air mereka, tanah mereka, dan hak-hak nasional, agama dan manusia mereka,” dia menjelaskan. 

 

https://english.alaraby.co.uk/news/jerusalem-hospital-sue-israel-over-funeral-attack

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement