Jumat 07 Jan 2022 22:40 WIB

Mensyiarkan Tauhid, Perintah Allah yang Bersifat Universal

Siapapun memiliki kewajiban absolut mensyiarkan tauhid.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Ani Nursalikah
Mensyiarkan Tauhid, Perintah Allah yang Bersifat Universal. Jamaah menunaikan ibadah di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.
Foto: Wihdan Hidayat/ Republika
Mensyiarkan Tauhid, Perintah Allah yang Bersifat Universal. Jamaah menunaikan ibadah di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fathurrahman Kamal menilai dakwah mensyiarkan tauhid merupakan perintah Allah SWT bersifat universal. Jadi, siapapun memiliki kewajiban absolut di hadapan Allah SWT menunaikan amanah ini.

Ia menilai, memahami ini tidak sederhana. Apalagi, ada kerusakan konsep tentang bertuhan hari ini yang disebut psikolog delusi. Jadi, manusia modern sulit bisa bedakan mana sesuatu yang realitas dan mana sesuatu yang bersifat imajinasi.

Baca Juga

Fathurrahman melihat ini bukan tren tapi kesyirikan ekstra modern. Muhammadiyah mengingatkan umat sejak 2005 ketika Muktamar Malang jika akan ada gejala yang dialami manusia modern yang mengalami apa yang disebut suasana despiritualisasi.

"Manusia modern kehilangan rohani," kata Fathurrahman Kamal dalam Pengajian Muhammadiyah bertajuk Memahami Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid dan Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang digelar di Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Jumat (7/1).

Allah SWT tidak peduli apapun kelompoknya atau apa pun jamaahnya, karena kita memiliki tugas kenabian yang sama. Selain itu, kemanusiaan universal, kalau sisi asli kemanusiaan masih terjaga, maka tidak ada pilihan kecuali menerima Islam.

Hal ini jangan pula disalah pahami karena tidak ada urusannya dengan kehidupan kita pada era multikultural. Maka itu, Fathurrahman mengingatkan, salah satu karakter Islam al insaniyah, kesesuaiannya dengan hajat dasar kemanusiaan.

"Eksplisit, Allah SWT menyatakan Islam yang diridhai sebagai the way of life (jalan hidup). Saat ini, Islam masih banyak digunakan sebagai gaya hidup, berfungsi sebagai aksesoris, belum sebagai paradigma kehidupan. Maka, itu tugas kita menjaganya," ujar Fathurrahman.

Meski begitu, ia menekankan, keislaman, keimanan, keberpihakan kepada Alquran dan sunnah sebetulnya tidak paripurna tanpa kita membangun kebersamaan dan ruh berjamaah. Karenanya, secara logika kita tidak boleh mendekati perpecah belahan.

"Maka itu, menjadi umat terbaik tidak otomatis melekat kepada umat Islam. Sebab, bisa meraih predikat terbaik hanya jika kita sudah melakukan generasi terbaik," kata Fathurrahman.

Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan Ustadz Muhammad Jazir ASP menambahkan Pengajian Muhammadiyah ini merupakan edisi pertama yang digelar. Artinya, setelah ini ada agenda-agenda serupa yang rencananya digelar setiap bulan.

"Karena selama ini kajian-kajian Muhammadiyah masih dalam lingkup persyarikatan, perlu rasanya menghadirkan kajian Muhammadiyah untuk publik yang lebih luas," ujar Jazir. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement