Rabu 15 Sep 2021 14:24 WIB

Taliban Baru dan Peranan Nahdlatul Ulama Afghanistan

Nahdlatul Ulama Afghanistan turut berkontribusi wujudkan perdamaian

Nahdlatul Ulama Afghanistan turut berkontribusi wujudkan perdamaian. Ilustrasi Taliban
Foto:

Oleh : Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015, KH Dr Asad Said Ali

Bagi negara  sedang berkembang (dunia ketiga), penarikan mundur Amerika Serikat dari Afghanistan dan kemudian diikuti perubahan sikap dengan tidak melakukan campur tangan terhadap urusan dalam negeri Afghanistan merupakan suatu hal yang posistif. 

Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip Dasa Sila Bandung yaitu “non intervensi“ atau tidak mencampuri masalah dalam negeri negara lain, kecuali atas permintaan negara yang bersangkutan. 

Dalam jangka pendek persoalan yang dihadapi Imarat Islam Afghanistan ( IIA ) adalah menyusun sistem politik inklusif dan rekonsiliasi nasional. Tarik ulur akan berlangsung antara pendukung IIA berhadapan dengan lawan lawannya selama ini, yang terdiri mereka yang menghendaki sistem demokrasi nasional dan suku minoritas seperti Hazara, Tajik, dan Uzbek serta pemeluk agama minoritas antara lain yang cukup besar jumlah nya adalah Shiah meliputi 6 persen dari jumlah penduduk. 

Persoalannya adalah bagaimana menyiasati suatu susunan masyarakat plural menjadi suatu kesatuan entitas politik yang bersatu padu. Dalam hal ini Indonesia  mempunyai pengalaman yang sudah teruji sepanjang kemerdekaanya selama 76 tahun dengan menggunakan “ pola pikir transformatif “. 

Termasuk di dalamnya,  menyiasati bagaimana nilai politik modern bersinergi dengan nilai nilai Islam  yang dipeluk mayoritas serta nilai nilai yg terkandung dalam budaya daerah. Bahkan termasuk didalamnya bagaimana menyatukan umat yang berbeda agama bisa bersatu dalam satu atap ideologi Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  

Dalam hal ini Indonesia sudah mempunyai modal sosial dan diplomasi yaitu hadirnya Nahdlatul Ulama Afghanisan ( NUA ) yang terbentuk pada 2014. Keanggautaannya kini sudah tersebar di 22 dari 34 propinsi dan diterima baik oleh Taliban maupun Mujahidin. Asas dasarnya yaitu tawasuth ( moderat ), tawazun (berimbang-independen), tasamuh (toleransi), i’tidal ( keadilan ), dan musyarakah (musyawarah). 

Interaksi NU dengan NUA dan Taliban cukup intens sampai sebelum pandemi Covid-19. Terakhir pertemuan tertutup antara empat tokoh Taliban dan eksponen NU di Jakarta dan hasilnya telah disampaikan kepada pemerintah via Ketua DPD waktu itu , Dr Usman Sapta Odang sebagai pihak yang mesponsori pertemuan.

 

 Kedua belah pihak yang bersengketa sejak lama tersirat ingin Indonesia menjadi penengah. Jika pemerintah berhasrat membantu percepatan rekonsiliasi di Afghanistan  maka langkah yang taktis adalah melibatkan NUA dan para ulama NU serta MUI.     

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement