Senin 13 Sep 2021 17:57 WIB

Wanita Afghanistan Tetap Bekerja Meski Dibayangi Ketakutan

Taliban meminta sebagian besar wanita di bandara untuk tidak bekerja.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah
Wanita Afghanistan Tetap Bekerja Meski Dibayangi Ketakutan. Pesawat militer Afghanistan terlihat setelah pengambilalihan Taliban di dalam Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Minggu, 5 September 2021.
Foto: AP/Mohammad Asif Khan
Wanita Afghanistan Tetap Bekerja Meski Dibayangi Ketakutan. Pesawat militer Afghanistan terlihat setelah pengambilalihan Taliban di dalam Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Minggu, 5 September 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Kurang dari sebulan setelah Taliban masuk ke ibu kota Afghanistan, seorang warga, Rabia Jamal membuat keputusan sulit. Dia memilih memberanikan diri kembali bekerja di bandara.

Meskipun banyak orang mengatakan perempuan harus tinggal di rumah, ibu tiga anak berusia 35 tahun itu merasa tidak punya banyak pilihan. “Saya butuh uang untuk menghidupi keluarga saya,” kata Rabia, mengenakan setelan jas biru laut dan riasan dilansir dari Khaleej Times, Ahad (12/9).

Baca Juga

"Saya merasakan ketegangan di rumah. Saya merasa sangat buruk. (Tapi) sekarang saya merasa lebih baik," tambahnya.

Saat ini, dari lebih dari 80 wanita yang bekerja di bandara sebelum Kabul jatuh ke tangan Taliban pada 15 Agustus, hanya 12 yang kembali ke pekerjaan mereka. Tetapi mereka adalah salah satu dari sedikit wanita di ibu kota yang diizinkan kembali bekerja. Taliban memberi tahu sebagian besar untuk tidak kembali sampai pemberitahuan lebih lanjut.

 

Enam pekerja bandara wanita berdiri di pintu masuk utama pada Sabtu, mengobrol dan tertawa sambil menunggu untuk memindai dan mencari penumpang wanita yang mengambil penerbangan domestik. Kakak Rabia, Qudsiya Jamal (49 tahun) mengatakan pengambilalihan oleh Taliban mengejutkannya.

“Saya sangat takut. Keluarga saya takut pada saya, mereka mengatakan kepada saya untuk tidak kembali, tetapi saya senang sekarang, santai. Sejauh ini tidak ada masalah,” kata ibu lima anak yang juga satu-satunya pencari nafkah keluarganya.

Hak-hak perempuan di Afghanistan sangat dibatasi di bawah pemerintahan Taliban 1996-2001, tetapi sejak kembali berkuasa, kelompok itu mengklaim mereka tidak akan terlalu ekstrem. Wanita akan diizinkan kuliah selama kelas dipisahkan berdasarkan jenis kelamin atau setidaknya dipisahkan oleh tirai. Tetapi otoritas pendidikan Taliban mengatakan wanita juga harus mengenakan abaya, jubah yang menutupi semua, dan cadar niqab yang menutupi wajah.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement