Rabu 18 Aug 2021 14:21 WIB

Memerdekakan Anak dari Gadget, Dekatkan dengan Islam  

Ujian orang tua hadapi ancaman gadget terhadap anak sangat besar

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah
Ujian orang tua hadapi ancaman gadget terhadap anak sangat besar.  Anak bermain gadget (ilustrasi)
Foto: Republika
Ujian orang tua hadapi ancaman gadget terhadap anak sangat besar. Anak bermain gadget (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Tidak dapat dimungkiri saat ini dahsyatnya fitnah (ujian) dan pengaruh handphone (gadget) pada anak-anak muda di dunia. Bahkan fitnah ini telah merusak generasi muda Indonesia sampai ke daerah-daerah terpencil. 

"Perubahan sikap dan perilaku telah nyata nampak di depan mata, sementara kebanyakan orang tua tidak menyadari perkara ini," kata Pengasuh Ponpes Tahfizul Qur'an Barokah Madinah Al-Minangkabawi, KH Zulkifli Ahmad Jundim Lc, saat menyampaikan pesan hikmahnya memperingati Hari Kemerdekaan ke-76 RI, Rabu (18/8). 

Baca Juga

Menurutnya, hari kemerdekaan ke-76 ini, bisa menjadi momentum dan saat yang tepat untuk memerdekakan generasi muda dari penjajahan gadged dan judi online yang sedang digandrungi anak-anak muda. Caranya dengan mengajak anak biasa menghafal Alquran untuk mengisi waktu kosongnya. 

"Alihkan potensinya, alihkan kesibukannya, alihkan minatnya, arahkan bakatnya kepada benda yang pasti diridhai Allah SWT, yakni menghafal Alquran dan menghafal 1.000 hadist baginda Nabi SAW," katanya menyarankan. 

Dulu, kata Kiai Zulkifli, ketika anak dipanggil orang tua segera merespons panggilan. Dengan sigap mereka berkata, "Iya bu...Iya mama...Iya papa...iya Abi..Iya Umi.." 

Sekarang jawabnya "ntaaar..." atau " *hmmm..." itu masih bagus karena ada yang tidak menjawab sama sekali, terutama yang sedang bermain game dan judi online di handphonenya. 

Ada anak yang datang mendekat kepada bapak dan ibunya tapi jempolnya tidak berhenti bergerak dan matanya melotot tidak lepas dari layar gadged. Bahkan menatap kepada orang yang memanggil pun tidak. "Apalagi tersenyum," katanya. 

Kadang ayah, ibu, kakak, adik, berada di ruang yang sama selama berjam-jam, duduk berhadapan tapi tidak ada yang saling menyapa,habis waktunya tiada tersisa lagi untuk baca Alquran. Ayah merasa haus, dia minta minum pake WA kepada ibu yang duduk di sampingnya.  

Ibu forward WA kepada anak di depannya. Anak teruskan WA nya kepada pembantu yang lagi main gim brick breaker di kamarnya. 

Tamu datang mengetuk pintu, mengucap salam... Assalamualaikum.. Dijawab sekadarnya. Bahkan ada yang tidak mau menjawab salam sama sekali dan tida ada yang berdiri menyambut kedatangan tamu. "Semua asyik dengan mainan di layar gadgetnya," katanya. 

Ayah suruh anaknya buka pintu, anak tidak peduli. "Ayah aja...!" jawab anak ketus dan marah terganggu. Tamu pun pergi dengan kecewa,membawa rasa dirinya tidak dihormati. "Padahal datangnya tamu membawa seribu rahmat," katanya. 

Perginya tamu, perginya seribu rahmat. Akhirnya rumah bagaikan penjara, penghuninya terjajah dengan alat yang bernama dajal kecil alias hp. Dajal kecil ini membuat anak kehilangan hormat kepada orang tua.  

Jika sudah keadaan seperti ini semua anggota keluarga tidak ada yang mau disalahkan. Untuk itu tidak perlu saling menyalahkan, mari cari solusinya dengan Alquran sebagai obat untuk semua penyakit.    

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement