Kamis 29 Jul 2021 15:44 WIB

Dekade Setelah Revolusi Tunisia dan Mantan Milisi ISIS

Ketidakpuasan pada pemerintah dn ekonomi labil mendorong warga bergabung dengan ISIS.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah
Dekade Setelah Revolusi Tunisia dan Mantan Milisi ISIS. Demonstran melempari polisi di Kota Ennour dekat Kasserine, Tunisia, Rabu, 20 Januari 2016. Tunisia memberlakukan jam malam akibat protes yang meluas.
Foto: AP Photo/Moncef Tajouri
Dekade Setelah Revolusi Tunisia dan Mantan Milisi ISIS. Demonstran melempari polisi di Kota Ennour dekat Kasserine, Tunisia, Rabu, 20 Januari 2016. Tunisia memberlakukan jam malam akibat protes yang meluas.

REPUBLIKA.CO.ID, TUNIS -- Mantan milisi Mohamed bergegas menaiki tangga rumahnya. Sampai di rumahnya, ia mengenang sebuah foto yang menampilkan Mohamed muda dengan janggut tebal dan panjang, mengenakan tunik, dan taqiyah.

Di foto itu ia baru saja tiba di Sanli Urfa, kota yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Setelah beberapa panggilan telepon, dia bertemu dengan pria yang merekrutnya beberapa bulan sebelumnya saat dia masih di Tunisia.

Baca Juga

Pria itu membawa Mohamed menuju Deir ez-Zor, Suriah pada musim gugur tahun 2014. Mohamed yang berusia 29 tahun itu resmi bergabung dalam kelompok ISIS.

Tunisia adalah negara pengekspor milisi terbesar di dunia. Menurut PBB, pada 2016 lebih dari 5.500 warga negara berusia antara 18 dan 35 tahun telah bergabung dengan organisasi militan di Suriah, Irak, dan Libya termasuk ISIS dan afiliasi Alqaidah, Jabhat al Nusra.

Hingga saat ini, sekitar 1.000 milisi telah kembali ke Tunisia dari berbagai zona konflik. Dari jumlah tersebut, 800 orang berada di penjara dan 200 orang telah dibebaskan di bawah pengawasan pengadilan.

Banyak dari mereka seperti Mohamed yang melakukan radikalisasi pada tahun-tahun awal Musim Semi Arab. Sekarang ia tinggal di rumah sederhana di Kalaa Kebira, Sahel Tunisia.

Mohamed menjelaskan semua dimulai dari pahlawan revolusi Tunisia, Mohamed Bouazizi. Pedagang kaki lima yang berusia 26 tahun itu membakar dirinya sendiri pada 17 Desember 2010 di depan Balai Kota Sidi Bouzid. Dia mengorbankan dirinya sebagai ungkapan protesnya terhadap korupsi dan ketidakpedulian pemerintah.

“Gerakannya adalah tanda protes, tangisan putus asa, dan seruan untuk perubahan,” ujar Mohamed.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement