Rabu 17 Mar 2021 12:24 WIB

Laporan PBB Soroti Islamofobia yang Meningkat di Dunia

Laporan PBB sebut meningkatnya Islamofobia dan pengawasan berlebihan terhadap Muslim

Rep: Puti Almas/ Red: Esthi Maharani
Ilustrasi Islamofobia
Foto: Foto : MgRol112
Ilustrasi Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menyoroti meningkatnya Islamofobia dan pengawasan secara berlebihan terhadap Muslim di banyak negara di seluruh dunia.

Menurut laporan dari Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB yang dirilis pekan lalu, pemerintah di seluruh dunia mendapat kritik atas masalah ini. Termasuk di antara negara yang mendapat kritik adalah Amerika Serikat (AS) dan China, yang dinilai harus berbuat lebih banyak untuk memerangi Islamofobia.

Pelapor khusus PBB tentang kebebasan beragama atau berkeyakinan, Ahmed Shaheed mengumumkan rilis laporan tersebut. Laporan yang secara resmi berjudul ‘Melawan Islamofobia /Kebencian Anti-Muslim untuk Menghapus Diskriminasi dan Intoleransi Berdasarkan Agama atau Keyakinan’, mencatat peningkatan dalam insiden Islamofobia di seluruh dunia secara menyeluruh.

Dilansir Religion News, jajak pendapat menunjukkan, umat Islam semakin dilihat dari sudut pandang yang tidak menguntungkan. Sumber lain menyebut, laporan mencatat hampir empat dari 10 orang di Eropa memiliki pandangan negatif terhadap Muslim, mengacu pada survei yang dilakukan antara 2018 dan 2019.

Sebuah survei terhadap orang Amerika yang dilakukan pada 2017 menemukan, 30 persen di antaranya menganggap Muslim dalam pandangan negatif. Munculnya Islamofobia sebagian didorong kondisi lokal di masing-masing negara dan wilayah, di mana isu-isu mendasar seperti kelas dan etnis sering juga berperan. Munculnya kelompok sayap kanan juga menjadi faktor lain yang mendorong peningkatan kebencian terhadap umat Islam.

Baca juga : Aa Gym Cerai Talak Teh Ninih, Kuasa Hukum Ungkap Alasannya

“Kami menyambut baik laporan baru-baru ini oleh PBB yang menggambarkan Islamofobia mencapai proporsi epidemi,” ujar  Erum Ikramullah, manajer proyek penelitian di Institut Kebijakan dan Pemahaman Sosial (ISPU).

Temuan baru ini, menurut Ikramullah sejalan dengan data ISPU, yang secara konsisten menemukan, Muslim Amerika adalah kelompok agama yang paling mungkin melaporkan menghadapi diskriminasi agama. Ia menyebut jumlahnya mencapai sekitar 60 persen selama lima tahun terakhir.

Laporan tersebut juga mengatakan, di seluruh dunia, penggambaran negatif dan sepihak dari Muslim di media telah berkontribusi pada kebangkitan Islamofobia. Laporan PBB mencatat studi Komisi Eropa Melawan Rasisme dan Intoleransi yang menemukan bahwa dari 600 ribu berita di Belanda pada 2016 dan 2017, terdapat kata sifat yang paling sering digunakan untuk menggambarkan Muslim adalah radikal, ekstremis, dan teroris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement