Sabtu 09 Jan 2021 05:16 WIB

Muslim AS Kutuk Penyerbuan Capitol

Mereka menggambarkan serangan itu sebagai tindakan pemberontakan.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
Muslim AS Kutuk Penyerbuan Capitol . Seorang pendukung Presiden AS Donald J. Trump duduk di meja Ketua DPR AS Nancy Pelosi, setelah pendukung Presiden AS Donald J. Trump melanggar keamanan Capitol AS di Washington, DC, AS, 06 Januari 2021. Pengunjuk rasa menyerbu AS Capitol tempat sertifikasi suara Electoral College untuk Presiden terpilih Joe Biden berlangsung.
Foto: EPA-EFE/JIM LO SCALZO
Muslim AS Kutuk Penyerbuan Capitol . Seorang pendukung Presiden AS Donald J. Trump duduk di meja Ketua DPR AS Nancy Pelosi, setelah pendukung Presiden AS Donald J. Trump melanggar keamanan Capitol AS di Washington, DC, AS, 06 Januari 2021. Pengunjuk rasa menyerbu AS Capitol tempat sertifikasi suara Electoral College untuk Presiden terpilih Joe Biden berlangsung.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sebuah kelompok hak-hak sipil terkemuka Amerika telah mengutuk serangan terhadap Capitol. Mereka menggambarkan serangan itu sebagai tindakan pemberontakan dengan kekerasan.

"Serangan di Gedung Kongres AS merupakan puncak dari ekstremisme sayap kanan yang pertama kali dilancarkan Donald Trump di jalur kampanye lima tahun lalu," kata Direktur Eksekutif Nasional Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Nihad Awad dalam sebuah pernyataan, dilansir di About Islam, Jumat (8/1).

Baca Juga

Awad menyebut pendukung Trump bersenjata yang menyerbu Capitol AS adalah pemberontak yang kejam. Karenanya Awad berharap, agar semua orang yang terkepung itu dapat kembali dengan selamat.

"Kami berdoa untuk keselamatan semua orang yang dikepung di Capitol Hill, termasuk anggota parlemen dan staf mereka. Kami menyerukan kepada pemerintah kami untuk melindungi mereka yang berada dalam bahaya," ujar Awad.

"Kami juga mendesak Kongres menuntut Presiden Trump, yang bertanggung jawab atas setiap tindakan kekerasan yang dilakukan hari ini, mengundurkan diri atau menghadapi pemakzulan,” ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement