Kamis 10 Dec 2020 07:30 WIB

Menjemput Rasa Aman

Allah suka dengan hambanya yang ridho dan ikhlas.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
Menjemput Rasa Aman. Foto: Skenario Kehidupan (ilustrasi)
Foto: marcandangel.com
Menjemput Rasa Aman. Foto: Skenario Kehidupan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pimpinan Majelis Talim dan Zikir Baitul Muhibin, Abdurrahman Asad Al-Habsyi dalam tausiyah virtualnya menyampaikan, bahwa perjalanan hidup manusia itu berbeda-beda. Ada yang terlihat selalu diselimuti keberuntungan dan kemilau kebahagiaan.

 

Baca Juga

"Sebaliknya ada yang merasa selalu dirundung duka dan nestapa," katanya, Kamis (10/12).

Ada yang bekerja keras sekuat tenaga tak selalu seberuntung bahkan sering kali kalah oleh mereka yang santai dan berleha-leha saja. Yang baik malah seringkali tersingkir oleh mereka yang penuh muslihat dan tipu daya, yang berjasa dan tulus mengabdi pun dilupakan, yang penjilat malah dipuja-puja.

"Semua itu kadang sering menyesakkan dada. Tetapi, bukankah hidup tak lebih dari menjalani skenario Ilahi?" katanya.

Bukankah, kata Habib Abdurrahman, Allah suka dengan hamba-Nya yang ridho dan ikhlas menjalani lakon hidup yang harus dilakoninya?

Salah satu syarat mencapai rasa aman adalah adanya ketenangan hati yang hanya didapat bila kita dekat dengan Allah. Ada orang yang merasa tidak aman walaupun dirinya dalam situasi nyaman dan tenteram. Sebaliknya, ada orang yang merasa tenang, tidak gelisah, walaupun situasi genting dan resah.

"Saat kita berada dalam situasi tidak tenang dan penuh kecemasan, maka hanya kepada Allah sajalah kita mengharapkan rasa aman dan ketenangan. Hanya dengan keimanan yg kuat kepada-Nya, hati ini menjadi tenang," katanya.

Rasa aman merupakan salah satu nikmat yang besar dari Allah Ta’ala  bagi umat manusia. Bahkan hal ini merupakan kebutuhan primer seorang hamba. Berkat rasa aman seorang hamba akan terbebas dari rasa takut dan khawatir sehingga bisa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan tenang dan sempurna.

Seseorang yang bertauhid dengan benar akan mendapatkan rasa aman dan petunjuk. Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang berhak mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang berhak mendapatkan petunjuk.” (Al An’am: 82).

Juga berarti orang yang bertauhid dan baik akidahnya dipastikan keberadaannya menghadirkan rasa aman bagi orang-orang disekitarnya.

Bahkan Rasul Mulia dalam sabdanya mensyaratkan 4 hal agar terciptanya rasa aman.

عَنْ سَخْبَرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ اُعْطِيَ فَشَكَرَ، وَ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ، وَ ظَلَمَ فَاسْتَغْفَرَ، وَ ظُلِمَ فَغَفَرَ، ثُمَّ سَكَتَ. فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا لَهُ؟ قَالَ: اُولئِكَ لَهُمُ اْلاَمْنُ وَ هُمْ يَهْتَدُوْنَ. الطبرانى.

Dari Sakhbarah RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diberi lalu berterima kasih, jika diberi cobaan dia bersabar, jika ia berbuat zhalim lalu mohon ampun, jika dizhalimi dia memaafkan”. Kemudian Rasulullah SAW diam. Maka para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana orang tersebut ?”. Beliau bersabda, “Mereka orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk”. (HR. Thabrani).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement