Ahad 30 Aug 2020 09:23 WIB

Pengikut Syiah Tandai Hari Asyura Saat Pandemi Covid-19

Peringatan Asyura oleh pengikut syiah di bawah ancaman covid-19.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Pengikut Syiah Tandai Hari Asyura Saat Pandemi Covid-19. Foto ilustrasi: Asyura
Pengikut Syiah Tandai Hari Asyura Saat Pandemi Covid-19. Foto ilustrasi: Asyura

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Pengikut Syiah memperingati Hari Suci Asyura di bawah bayang-bayang pandemi virus Covid-19. Biasanya, perayaan hari ini ditandai dengan pertemuan besar dan bersedih.

Hari Asyura memperingati pembunuhan yang terjadi abad ketujuh pada Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, dalam Pertempuran Karbala dengan tentara Khalifah Yazid. Kala itu, Hussein menolak untuk bersumpah setia.

Baca Juga

“Intinya, Ini adalah kisah pengorbanan seorang tokoh agama yang luar biasa,” kata pengajar sejarah di Universitas Maryland, Baltimore County dan peneliti Islam Syiah, Noor Zaidi, dilansir di Arab News, Ahad (30/8).

Ia menyebut peringatan ini juga sekaligus mengenang kisah sayang kekeluargaan antara Hussein dan orang-orang yang bersamanya di Karbala. Hussein memiliki komponen revolusioner yang nyata di dalam dirinya.

"Apa yang membuat ia bertahan begitu kuat adalah kenyataan bahwa ia memiliki kemampuan untuk berbaur dengan hal yang menurut saya dibutuhkan orang darinya," lanjut Zaidi.

Hari Asyura jatuh pada tanggal 10 Muharram dan didahului dengan hari peringatan dan dzikir. Ekspresi publik atas duka cita komunal umumnya dikaitkan dengan Syiah. Bagi Muslim Sunni, Ashura adalah peringatan lebih dari satu peristiwa, termasuk eksodus yang dipimpin Musa dari Mesir.

Di Irak, peziarah biasanya berkumpul di kota suci Karbala, tempat pertempuran dan rumah bagi Imam Hussein. Namun, dengan adanya pandemi, Ulama Syiah Irak, Ayatollah Ali Al-Sistani, mendorong orang untuk memperingati duka dengan cara lain seperti menonton peringatan secara daring atau televisi dari rumah.

Adapun mereka yang menghadiri peringatan secara langsung harus mematuhi pedoman kesehatan. Termasuk di dalamnya menjaga jarak sosial, mengenakan masker dan topi pada jumlah peserta sesuai dengan peraturan lokal di berbagai negara.

Juru bicara Kementerian Kesehatan dan Lingkungan Irak, Saif Badr, memuji pernyataan Al-Sistani dan menyerukan untuk mematuhi peraturan kesehatan.

"Pendapat kami jelas. Secara umum, kami menentang kongregasi dalam segala bentuk, termasuk pada acara-acara keagamaan karena pandemi," ujarnya. Ia juga menyebut beberapa warga Irak tidak mengindahkan seruan untuk menghindari berkumpul.

Di Pakistan, menjelang Hari Ashura ribuan minoritas pengikut Syiah berkumpul di berbagai bagian negara, di tengah penurunan kematian dan infeksi Covid-19.

Dalam pidatonya di sebuah pertemuan pengikut Syiah di kota Multan, Menteri Luar Negeri, Shah Mahmood Qureshi, meminta orang-orang untuk mematuhi aturan jarak sosial ketika mereka merayakan Hari Ashura.

Pasukan keamanan dikerahkan di sekitar tempat ibadah Syiah untuk membantu mengamankan demonstrasi publik yang menjadi sasaran kelompok militan di masa lalu.

Di Najaf, Irak, pada hari-hari biasa di masa berkabung menjelang Hari Asyura, Sayyid Sahib Al-Yasseri, membeli nasi, daging, dan bahan makanan lainnya di pagi hari. Nantinua bahan ini dimasak untuk makan malam yang disajikan kepada kerabat yang menghadiri pertemuan peringatan malam hari.

Dengan berbalut pakaian berwarna hitam, ia dan yang lainnya mendengarkan tilawah Alquran, ceramah agama dan renungan malam. Beberapa bahkan menutup wajah dengan telapak tangan saat menangis.

"Ada air mata dan patah hati bagi Imam Hussein,” kata Al-Yasseri. Tahun ini, ritual diadakan di lua sementara para pria membagikan masker sekali pakai dan menyemprotkan cairan sanitasi ke tangan kerabat.

Al-Yasseri memperkirakan sekitar 750 orang mengambil bagian dalam pertemuan tersebut. Menyebarnya Covid-19 membuat jumlah Muslim yang mengikuti kegiatan lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada Hari Asyura, yang jatuh pada hari Ahad di Irak, setidaknya satu tradisi yang tidak berubah, yakni mendonor darah. "Saya menyumbang darah untuk memberi manfaat kepada orang lain dan karena cinta saya kepada Imam Hussein," ujarnya.

Di Nabatiyeh, Lebanon, Hari Asyura datang saat Lebanon terhuyung-huyung. Bukan hanya akibat pandemi tetapi kesulitan ekonomi dan ledakan besar mengoyak ibu kota beberapa waktu lalu.

Di tengah penguncian parsial Covid-19, dua kelompok Syiah terbesar di Lebanon, kelompok militan Hizbullah dan Ketua Parlemen gerakan Amal Nabih Berri, mendesak orang-orang untuk memperingati Asyura di rumah dengan bantuan televisi dan media sosial.

Yasser Qameh, yang selama beberapa dekade sebelumnya menghadiri pertemuan publik setiap malam selama masa berkabung, kini memilih menonton dari rumah. Tahun ini, meski ada jam malam, beberapa orang berkumpul setiap malam di alun-alun kota menggunakan masker, pemeriksaan suhu, dan kursi plastik yang diberi jarak.

Kota selatan Lebanon, tempat ia tinggal, pada tahun-tahun normal merupakan situs pengamatan Ashura besar-besaran. “Perbedaannya seperti menonton pertandingan sepak bola di TV daripada berada di stadion," kata dia.

Biasanya, perayaan Asyura tahunan di Nabatiyeh dihadiri puluhan ribu orang. Beberapa pria memotong dan memukuli kepala mereka sebagai lambang dengan tujuan mengingat rasa sakit yang dirasakan Imam Hussein. Adegan seperti itu dikritik oleh beberapa ulama Syiah yang mengecam ritual tersebut.

Qameh juga meninggalkan tradisi lain untuk tahun ini. Biasanya dia membantu mendistribusikan air, jus dan hidangan khusus yang disebut Harisa, yang terdiri dari gandum dan ayam atau daging sapi, kepada peserta yang berasal dari daerah lain.

Sementara di Hicksville, New York, beberapa komunitas Syiah menyiarkan peringatan secara online. Fatima Mukhi-Siwji merasa sedih karena putrinya yang berusia 10 bulan akan melewatkan ritual tersebut.

"Saya dibesarkan di masjid. Bagaimana kita seharusnya mengajari anak-anak kita tentang agama? Bagaimana kita bisa mengajari mereka (tentang) Imam Hussein?," ujarnya.

Tak lama sebelum dimulainya bulan Muharram, sejumlah Muslim Syiah dari komunitas yang berbeda, termasuk ayah Mukhi-Siwji, bekerja sama untuk mengatur peringatan dengan cara berkendara, untuk memperingati acara tersebut dengan aman.

Diadakan di tempat parkir luar ruangan milik sebuah bioskop, acara tersebut menampilkan khotbah, pembacaan puisi, nyanyian dan ratapan, sembari yang hadir mendengarkan dari mobil mereka dan menonton di layar besar.

Beberapa orang keluar dari mobil mereka dan menonton atau melakukan ritual dengan rasa berkabung dada sambil bersosialisasi.

Kegiatan ini telah memancing hadirnya ratusan mobil. Meski di tengah pandemi dan keterbatasan, kegiatan tersebut dapat menghidupkan kembali rasa kebersamaan yang sangat dirindukan. 

Sumber:

https://www.arabnews.com/node/1726561/world

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement