Jumat 17 Jul 2020 13:35 WIB
Hagia Sophia

Bung Karno, Erdogan, Hagia Sophia, dan Nasionalis-Religius

Hagia Sophia menjadi santapan batin Turki seperi Soekarno dengan proyek mercu suarnya

Pembacaan Surat Al-Fath di Hagia Sophia Turki
Foto: Anadolu Agency
Pembacaan Surat Al-Fath di Hagia Sophia Turki

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: DR Dipo Alam,  Sekretaris Jenderal D-8 Organization  for Economic Cooperation (D-8), berkantor di Istanbul, Turki (2007-2010)

Pada 10 Juli lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan secara resmi mengumumkan bahwa Hagia Sophia di Istanbul akan kembali dibuka sebagai masjid untuk umat Islam. Keputusan itu sontak memancing reaksi dan polemik di seluruh dunia.

Sayangnya, para pengamat politik umumnya menilai keputusan tersebut melalui kacamata tunggal saja: semua itu hanya demi kepentingan politik Erdogan menghadapi pemilu 2023. Padahal, dalam kasus Hagia Sophia, menurut saya Erdogan sedang bermain di panggung yang jauh lebih besar.

Dewan Negara Turki (Turkey’s Council of State), yang merupakan pengadilan administrasi tertinggi, awal Juli lalu memang telah menerima argumen banding yang mendesak pembatalan keputusan Dewan Menteri (Council of  Ministers) tanggal 24 November 1934, yang telah mengubah Hagia Sophia dari masjid agung menjadi museum. Dengan demikian, Hagia Sophia kembali dibuka sebagai tempat ibadah bagi kaum muslim.

Tuntutan hukum itu sendiri sebenarnya bukan baru saja diajukan, tetapi telah berproses sejak 2005 silam. Sebuah lembaga swadaya masyarakat di Istanbul, The Association of Foundations and Service to Historical Artefacts and the Environment, telah mengajukan petisi di Dewan Negara yang meminta pembatalan keputusan untuk mengubah Hagia Sophia menjadi museum.