Sabtu 06 Jun 2020 18:41 WIB

ACT Sulteng Bangun Sumur Bantu Petani Sigi

Sumur wakaf akan menjadi salah satu solusi terbaik menanggulangi kekeringan

Pengeboran sumur wakaf yang dilakukan Global Wakaf dan Aksi Cepat  Tanggap (ACT), (ilustrasi).
Foto: dok. ACT
Pengeboran sumur wakaf yang dilakukan Global Wakaf dan Aksi Cepat Tanggap (ACT), (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SIGI -- Lembaga Kemanusiaan Global Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Tengah (Sulteng) membangun sumuruntuk membantu petani di wilayah Sulteng termasuk di Kabupaten Sigi, dalam rangka memulihkan sektor pertanian setelah hampir dua tahun gempa dan likuefaksi menghantam kabupaten itu.

“Kebutuhan warga petani akan air, coba dipenuhi melalui pembangunan sumur wakaf yang dibangun oleh lembaga kemanusiaan global Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulteng bersama mitra donator,” ucap Kepala ACT Sulteng, Nurmarjani Loulembah, di Sigi, Sabtu (6/6).

Baca Juga

Berdasarkan data ACT terdapat 8.000 hektare lahan pertanian kering, karena kesulitan air. Lahan pertanian itu bergantung pada air yang dipasok melalui irigasi. Sementara irigasi rusak berat karena terdampak gempa dan likuefaksi 28 September 2018 silam.

Data ACT Sulteng menyebut, dari 8.000 hektare lahan pertanian kering tersebut, saat ini baru 1.010 hektare yang bisa dimanfaatkan, seiring irigasi mulai berfungsi mengairi air secara perlahan-lahan.

ACT Sulteng menganggap sumur wakaf akan menjadi salah satu solusi terbaik menanggulangi kekeringan dan darurat air bersih, yang melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Sigi, khususnya bagi para petani.

Nurmarjani Loulemba mengatakan, saat ini ACT Sulteng memfokuskan pembangunan sumur wakaf di wilayah Kabupaten Sigi. Sebab, ribuan hektare sawah di wilayah itu kekeringan karena jaringan irigasi rusak akibat gempa.

Sumur yang dibangun, ada beberapa tipe yaitu sumur wakaf produktif untuk pertanian, sumur wakaf family untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga dan sumur wakaf yang dibangun lengkap dengan MCK dan tempat wudhu.

"Untuk sumur wakaf pertanian, dibangun di lahan-lahan pertanian milik warga, diharapkan sumur ini bisa membantu petani untuk mengolah kembali lahan pertaniannya,” katanya.

Ia menerangkan, satu sumur akan digunakan oleh beberapa petani yang tergabung dalam kelompok tani. Pasalnya, dalam program sumur wakaf ini, ACT Sulteng melibatkan kelompok-kelompok tani yang ada di masyarakat.

"Untuk tipe sumur pertanian ini, ada sumur dalam dan dangkal, karena masing-masing wilayah kedalaman mendapatkan air itu beda-beda," urainya.

Saat ini, ACT Sulteng telah membangun 40 sumur yang berfungsi menjangkau beberapa desa di Kecamatan Dolo. Yaitu Desa Karawana, Potoya, Solowe, Sibalaya, Sidondo, Sibowi dan Maranata. Ada juga yang dibangun ACT bersama mitra dari Jepang di Desa Maranata sebanyak 13 titik, dan di Desa Sibowi lima titik serta di Sidondo delapan titik.

Selain sumur wakaf produktif, Menurut Nani, ACT juga membangun sumur wakaf family sebanyak 10 titik di Desa Karawana bahkan sudah dimanfaatkan. Saat ini, yang masih dalam proses pembangunan sebanyak 25 titik. 15 titik di Desa Salowe, 10 di Desa Potoya.

Begitu juga Sumur Wakaf lengkap dengan MCK dan tempat wudhu. ACT membangun sebanyak 12 titik, yang dibangun di empat daerah meliputi Kota Palu di Kelurahan Petobo dan Duyu, Kabupaten Sigi di Desa Loru, Jono Oge, Maranata, Padende, Solowe, Bora. Di Kabupaten Donggala di Desa Toaya dan Desa Singora untuk Kabupaten Parigi Moutong.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement