Senin 10 Feb 2020 21:52 WIB

Tren Zakat Diyakini Naik Meski Terjadi Pelambatan Ekonomi

Zakat tidak terlalu berpangaruh dengan pelembatan ekonoim

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi Zakat
Foto: Republika/Mardiah
Ilustrasi Zakat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Tren zakat pada tahun ini diyakini tetap akan meningkat. Meski diperkirakan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi.  

Pakar Ekonomi Islam Institut Pertanian Bogor, Irfan Syauqi Beik, mengatakan karena kuartal keempat tumbuh di bawah 5 persen. Secara umum pertumbuhan 2019 di bawah asumsi, hanya 5,02 persen. 

Baca Juga

“Tahun 2020 ini saya juga memperkirakan ekonomi kita akan tumbuh di bawah 5 persen, sekitar 4,8 presen, itu angka yang paling rasional menurut saya," kata dia kepada Republika.co.id, Senin (10/2). 

Irfan juga mengatakan, wabah virus Corona yang bersumber dari Wuhan, Cina, menjadi tantangan secara tidak langsung terhadap pertumbuhan zakat tahun ini. Namun di tengah situasi seperti ini, bukan berarti jumlah orang yang berzakat itu turun. Sebab pertumbuhan ekonomi sebetulnya tetap terjadi. 

"Bisnis masih bergerak meski tumbuh dengan lambat. Dengan penurunan tersebut, maka masih bisa meningkatkan pengumpulan zakat," tutur pria yang menjabat Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas itu.

Irfan mengambil contoh Baznas. Tahun ini pertumbuhan zakat yang dihimpun pada tahun ini diproyeksikan naik 35 persen, berkurang 5 persen dari tahun lalu 40 persen. Berkurangnya persentase ini karena ada penyesuaian. Dia meyakini, ekonomi syariah akan terus tumbuh lebih tinggi ketimbang konvensional.

"Termasuk juga jika melihat tren rata-rata pertumbuhan zakat sekitar 24-25 persen dalam satu dekade terakhir, nah itu kan jauh di atas pertumbuan ekonomi (nasional). Berdasarkan pengalaman yang ada, menghadapi 2008, 2014 juga, kita lihat Alhamdulillah zakat masih terus bisa ditingkatkan," ucapnya.

Menurut Irfan, kesadaran masyarakat untuk berzakat pun meningkat, termasuk kesadaran berbagi. Ketika ekonomi melambat, dia melihat, masyarakat lebih memilih menahan konsumsi terhadap barang tertentu.

"Jadi makin selektif memilih konsumsi, tapi untuk berzakat dia tetap tunaikan. Jadi hemat untuk konsumsi barang tertentu tapi pada sisi lain untuk berbagi ia tetap tunaikan karena kewajiban zakat itu ukurannya bukan pertumbuhan ekonomi, tapi income, kalau bicara zakat penghasilan," katanya.

"Saya melihat ruang-ruang itu terbuka lebar apalagi potensi zakat itu masih banyak yang belum tergarap. Sehingga penghimpunan zakat akan meningkat," tambahnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement