Selasa 04 Feb 2020 17:00 WIB

Muhyiddin Jabat Waketum MUI, Gantikan Almarhum Yunahar Ilyas

Muhyiddin ingin MUI lebih profesional.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
 Muhyiddin Jabat Waketum MUI, Gantikan Almarhum Yunahar Ilyas. Foto:  Muhyiddin Junaidi
Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Muhyiddin Jabat Waketum MUI, Gantikan Almarhum Yunahar Ilyas. Foto: Muhyiddin Junaidi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muhyiddin Junaidi resmi menjabat sebagai wakil ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggantikan posisi Yunahar Ilyas yang telah meninggal dunia. Posisi Muhyiddin sebelumnya sebagai ketua MUI bidang hubungan luar negeri kini digantikan oleh Sudarnoto Abdul Hakim, yang sebelumnya menjabat ketua komisi pendidikan MUI.

Muhyiddin dengan posisi yang baru itu akan menghabiskan sisa periode 2015-2020 hingga pertengahan tahun ini. Di sisa waktu yang terbilang sedikit ini, dia ingin MUI bekerja lebih profesional dan menghilangkan persoalan terkait rangkap jabatan.

"Kita mulai dulu dari karyawan dan karyawati di MUI, sehingga dengan begitu mereka lebih berdaya guna dan produktif," tutur dia kepada Republika.co.id, Selasa (4/2).

Dengan begitu, ungkap Muhyiddin, nama MUI juga akan terus terjaga dengan baik. Apalagi, dia mengakui, MUI memiliki banyak program. Karena itu, seluruh komisi dan lembaga dalam menyampaikan program kerjanya itu harus terukur dan terencana sesuai bujet yang ada.

 

Muhyiddin juga berharap, segala bentuk perbedaan yang membuat kelompok masyarakat seperti terbagi dua pada momen Pemilihan Presiden 2019 haruslah dihilangkan. "Kelompok-kelompok yang terbagi dua itu agar bersatu kembali, dan MUI harus mengambil peran yang maksimal, karena MUI milik umat," tuturnya.

MUI, lanjut Muhyiddin, juga tidak boleh berdiam diri dan menjadi takut menyampaikan kritik hanya karena ketua umum non-aktifnya menjabat sebagai wakil presiden RI. "Meski ketua umum non-aktifnya wapres tapi tidak boleh MUI ini berdiam diri atau tidak berani mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat.

Tentunya, jelas Muhyiddin, kritik tersebut disampaikan dengan cara yang sopan dan santun. "Namun cara mengkritiknya bagaimana, maka harus pakai bahasa ulama, sehingga mengedepankan bahasa sopan dan santun dalam menyampaikan kritik-kritik yang sifatnya konstruktif dan membangun."

Muhyiddin juga mengajak masyarakat Muslim di Indonesia untuk turut mengawal MUI. "Jika ada masalah yang berkaitan dengan keagamaan, silakan konsultasi dengan MUI karena kita punya guidance dan consuling yang siap membantu dan memecahkan masalah yang dihadapi umat," katanya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement