Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Konsepsi Cinta Jalaluddin Rumi dan Harmoni Alam Semesta

Senin 27 Jan 2020 21:53 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Hakikat konsep cinta Jalaluddin Rumi seperti wujud harmoni semesta. Foto Jalaluddin ar-Rumi (ilustrasi).

Hakikat konsep cinta Jalaluddin Rumi seperti wujud harmoni semesta. Foto Jalaluddin ar-Rumi (ilustrasi).

Foto: quantummethod.org
Hakikat konsep cinta Jalaluddin Rumi seperti wujud harmoni semesta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Puisi adalah salah satu sarana yang bisa digunakan para sufi dalam mengungkapkan keadaan dan rasa cinta mereka. Salah satu sufi yang lekat dengan puisi adalah Jalaluddin Rumi, seorang penyair cinta paling menonjol dalam khazanah sufi Persia.

Baca Juga

Rumi bersyair tidak sekadar karena meyenangi puisi, tapi karena menganggap bahwa puisi adalah sarana yang paling tepat untuk mengungkapkan hakikat realitas-realitas mereka secara sentimental. Dalam puisi-puisinya, Rumi pun mengungkap tentang cinta. 

Dalam tasawuf, konsep cinta atau mahabbah lebih dimaksudkan sebagai bentuk cinta kepada Tuhan dan telah banyak para sufi yang mengungkap kecintaan seperti itu, begitu juga dengan Rumi yang mengungkapkan dalam bentuk puisi.

Nama lengkapnya Jalaluddin Muhammad ibn Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi, lahir pada 604 Hijriyah atau 30 September 1207 Masehi di Balkh, yang pada saat itu masuk dalam wilayah kerajaan Khawarizm, Persia Utara, Sekarang Afghanistan. 

Dia digelari al-Rumi karena dinisbatkan pada kawasan Rum (Roma), kini kota Konya, Turki, tempat dia melewatkan sebagian besar kehidupannya.

Rumi meninggal pada sore hari di saat langit berubah warna menjadi merah tembaga, tepatnya pada 17 Desember 1273. 

Sesaat sebelum meninggal, terjadi gempa kecil, dibarengi dengan suara seperti perut lapar. “Bersabarlah, bumi yang bangka!” teriak Rumi, “Sebentar lagi akan kau dapat manisanmu!”. 

Selama hidupnya, Rumi menulis beberapa karya, yang di antaranya berjudul Diwan, Masnawi-i-Ma’nawi, Rubai’iya, Fihi Ma Fihi, Makatib, dan Majalis-i-Sab’ah. Satu hal yang menjadi salah satu perhatian penulis adalah tentang konsep cinta Rumi.

Satu hal yang perlu dikhawatirkan dalam menyingkap konsep cinta Rumi adalah terjadinya pendangkalan dalam ajaran Rumi. Karena, sesungguhnya “cinta” yang disuarakan Rumi sangat jauh melampaui cinta yang dituturkan kisah-kisah cinta di dunia ini. Bagi Rumi cinta adalah cinta: sebuah sifat ilahiyah dalam diri manusia yang tidak perlu didefinisikan, namun dialami.

Rumi dalam mendasarkan cintanya pada proses panjang dengan melihat alam sebagai perwujudan cinta. Alam dijadikan sebuah media untuk mengenal Allah. Karena tanpa alam, akan sulit untuk mengenal Allah.

Bagi Rumi, cinta adalah segala-galanya. Alam semesta ini adalah alam cinta. Apa yang terjadi dalam proses kehidupan ini adalah muncul dari cinta. Demikian pula proses alam yang lain. 

Melalui cinta dan kasih, alam ini berproses secara teratur dan berevolusi secara kreatif, matahari menyinari bumi, malam menggantikan siang, benih tumbuh menjadi tanaman, tanaman berbunga, berbuah dan begitu seterusnya, karena cinta adalah lautan yang tak bertepi.

Dengan cinta, kehidupan ini terus berevolusi secara kreatif menuju kehidupan yang semakin baik dan sempurna. Dengan begitu, Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling mendasar, yang menyusup ke dalam setiap makhluk dan menghidupkan mereka.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA