Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 Februari 2020

Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 Februari 2020

Kerja Sama Acara Masjid London dengan BoD Pro Israel Dikecam

Kamis 23 Jan 2020 19:58 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

Umat Islam London mengecam keras rencana acara dengan BoD Pro Israel. Foto bendera Inggris dan Uni Eropa

Umat Islam London mengecam keras rencana acara dengan BoD Pro Israel. Foto bendera Inggris dan Uni Eropa

Foto: Reuters
Umat Islam London mengecam keras rencana acara dengan BoD Pro Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Masjid Pusat London, Inggris, didesak untuk membatalkan acara dengan kelompok pro-Israel paling terkenal di negara itu. Desakan itu dilayangkan melalui sebuah surat protes, yang isinya menyoroti pandangan anti-Palestina dari kelompok Yahudi tersebut.

Baca Juga

Muslim Inggris menyatakan kaget atas acara yang diselenggarakan Dewan Perwakilan Yahudi Inggris (BoD) yang pro-Israel, yang dijadwalkan berlangsung di Regent's Park Mosque akhir bulan ini. Acara itu menyoroti tentang nasib umat Islam Uyghur di Tiongkok.

Namun demikian, organisasi Zionis tersebut mengumumkan melalui jejaring Twitter bahwa pertemuan itu kini akan berlangsung pada tanggal yang sama di House of Commons. 

Akan tetapi, BoD tidak menyebut Masjid Pusat London dalam unggahannya di Twitter dan tidak pula menjelaskan mengapa tempat tersebut telah diubah.

Ketidakkonsistenan BoD atas hak asasi manusia dan pandangannya yang anti-Palestina membuat banyak orang mempertanyakan motifnya menggelar acara demikian di masjid. 

Kekhawatiran itu lantas diangkat dalam surat keluhan ke Masjid Pusat atas keputusannya untuk bermitra dengan organisasi tersebut.  

Dalam surat yang ditujukan kepada Direktur Masjid, Ahmad Dubayan, tersebut mereka yang memprotes acara menyoroti soal sikap kelompok Yahudi itu yang sangat mendukung Israel. 

Dalam surat itu tertulis, bahwa BoD telah mengklaim untuk berbicara atas nama orang-orang Yahudi di Inggris.

BoD secara terbuka mendukung demonstrasi pro-Israel selama pemboman Gaza pada 2008/2009 dan 2014 yang menewaskan ribuan wanita, anak-anak dan pria Palestina. 

Organisasi itu juga secara konsisten mendukung rezim yang secara luas dianggap bersalah atas kejahatan perang dan kejahatan rasis apartheid. 

"Dewan, dan bukan komunitas Yahudi Inggris, secara aktif mendukung pemerintah Israel,  pemerintah Israel yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia, penjajahan, kebijakan apartheid dan pengabaian terhadap Resolusi PBB," tulis surat itu, seperti dilansir di Middle East Monitor, Kamis (23/1). 

Surat tersebut juga menyoroti dukungan BoD untuk pencaplokan Israel. Surat itu mengutip unggahan di Twitter oleh BoD pada  Desember 2018 yang mendukung keputusan Presiden AS DOnald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. 

Meskipun, PBB mengecam langkah tersebut dalam pemungutan suara atas status Yerusalem, di mana 128 negara mendukung mosi bahwa keputusan untuk mengakui kota suci Yerusalem sebagai ibukota Israel adalah batal demi hukum.  

Surat itu juga menyoroti upaya BoD untuk menekan aktivisme pro-Palestina. Termasuk, kegiatan BoD yang mendukung penyensoran peristiwa di INggris yang menyoroti pelanggaran Israel. 

Selanjutnya, pada 19 Desember 2019 BoD yang menyerukan untuk tidak mengesahkan gerakan hak-hak sipil Palestina tentang BDS (Boykot, Divestasi, dan Sanksi).

"Penting untuk diingat bahwa pandangan Dewan tidak mewakili semua orang Yahudi Inggris dan pada Maret 2018, lebih dari 500 orang Yahudi menambahkan nama mereka ke sebuah petisi yang memberi tahu Dewan bahwa mereka 'sangat salah mengartikan' mengenai reaksi atas kematian warga Palestina dan reaksi sepihak mereka terhadap kekerasan di Gaza," tambah surat itu.

Surat pengaduan itu mempertanyakan motif BoD dan reputasi organisasi itu yang memilah-milah terhadap kasus pelanggaran HAM berat. 

Disebutkan, bahwa BoD telah mendukung Israel yang terkenal karena pelanggaran HAM terhadap Palestina. "Dan mereka menjadi bagian dari acara Anda untuk mengatasi pelanggaran hak asasi manusia terhadap Uyghur, yang sulit untuk direkonsiliasi. Untuk mencari kebebasan dan keadilan bagi Uyghur, tidak ada acara/ organisasi/ individu yang boleh bermitra dengan organisasi apa pun yang dipandang secara terbuka menyatakan dan mendukung pelanggaran hak asasi manusia di bagian lain dunia."

Surat itu kemudian diakhiri dengan permohonan kepada Regent's Park Mosque yang meminta pihak masjid agar mempertimbangkan kembali keputusannya untuk menjadi tuan rumah acara dengan BoD ini. Disebutkan, hingga BoD menjauhkan diri dari pendudukan Israel atas Palestina dan kebijakan apartheidnya.

Dalam sejarahnya, BoD begitu mendukung Israel bahkan selama pembantaian paling berdarah berlangsung di Palestina. 

Selama aksi protes Great March of Return dari warga Palestina di perbatasan Gaza-Israel, BoD dikecam oleh orang-orang Yahudi Inggris terkemuka karena mendukung agresi Israel terhadap para demonstran damai. Dalam aksi demonstrasi itu, lebih dari 250 warga Palestina terbunuh dan 20 ribu lainnya terluka. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA