Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

3 Macam Nafsu Manusia yang Diabadikan dalam Alquran

Rabu 22 Jan 2020 20:00 WIB

Rep: MgRol 127/ Red: Nashih Nashrullah

Alquran menyebutkan acuan tiga macam nafsu umat manusia. Berdoa/Ilustrasi

Alquran menyebutkan acuan tiga macam nafsu umat manusia. Berdoa/Ilustrasi

Foto: Republika/Wihdan
Alquran menyebutkan acuan tiga macam nafsu umat manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, Perkara jiwa dan hati, pastilah hanya diri kita yang mengetahuinya. Jiwa merupakan sesuatu yang melekat dalam diri dan memerintah untuk melakukan sesuatu. Allah SWT telah mengabarkan jiwa itu sebagai ammarah, yaitu banyak memerintah.   

Baca Juga

Namun, tahukah Anda ada tiga sifat jiwa dalam diri yang disebutkan dalam Alquran? Berikut tiga sifat dalam Alquran sebagaimana Republika.co.id rangkum dari buku Belajar Mudah Memahami Hikmah karya Abinya Nasha.   

1. Al Ammarah bi suu’, yaitu suka menyuruh kepada keburukan. Kata tersebut  bermakna bahwa jiwa pada dasarnya memiliki sifat yang cenderung melakukan keburukan. Maka dari itu, setiap orang pada dasarnya memiliki sifat untuk melakukan hal yang buruk.  

“Dan aku (yusuf) tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS Yusuf : 53)

2 Lawwamah, yaitu menyesali diri. Dalam sifat ini, manusia sangat diwajarkan ketika merasa menyesal atas diri sendiri dan cenderung mencela dirinya. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah dalam surah Alqiyamah: 2, “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”

Annafsullawwamah, yaitu suatu keadaan di mana jiwa menyesali keadaan diri karena merasa kurang melakukan kebaikan dan menyesal atas keburukan yang dilakukan. Dalam hal ini, jiwa memiliki kesadaran akan hal itu. 

3. Muthmainnah, yaitu sifat jiwa yang memperoleh ketenangan. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Ighatsat al-Lahfan min Masyayidisy Syaithan, apabila jiwa merasa tenteram kepada Allah SWT tenang dengan mengingat-Nya, dan bertobat kepada-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, dan menghibur diri dengan dekat kepada-Nya, maka ialah jiwa yang dalam keadaan muthmainnah. Seperti firman Allah dalam QS al-Fajr ayat 27-30.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”  

Maka demikianlah sesungguh jiwa memiliki kecenderungan untuk berbuat buruk karena setiap jiwa punya hawa nafsu. Namun, permasalahannya adalah bagaimaan kita menahan diri utuk tidak dituntut oleh keburukan tersebut. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA