Senin 06 Jan 2020 23:20 WIB

Pintu Surga Dibuka Tiap Senin, Tapi tidak untuk Golongan Ini

Pintu surga dibuka tiap Senin dan Kamis bagi hamba-Nya yang tak bertikai.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah
Pintu surga dibuka tiap Senin dan Kamis bagi hamba-Nya yang tak bertikai. Foto ilustrasi surga.
Foto: blogspot.com
Pintu surga dibuka tiap Senin dan Kamis bagi hamba-Nya yang tak bertikai. Foto ilustrasi surga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Alangkah indahnya hari Senin dalam pandangan Islam. Sebab, pada hari ini, pintu-pintu surga dibuka. Dalam hadits Abu Hurairah dijelaskan tentang keutamaan hari Senin dan Kamis secara umum.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut), kecuali sesorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai." (HR Muslim).

Baca Juga

Amirullah Syarbini & Sumantri Jamhari dalam bukunya berjudul "Dahsyatnya Puasa Wajib & Sunah Rekomendasi Rasulullah SAW,"  menjelaskan bahwa setiap tahunnya Allah SWT membukakan pintu surga pada Ramadhan. Sedangkan setiap pekan, Allah  membukakan pintu-pintu surga pada Senin dan Kamis.

Namun, tentunya, sesuai hadis tersebut dijelaskan bahwa pintu syurga itu tidak akan dibuka bagi Muslim yang tengah bermusuhan. Karena itu, berdamailah agar pintu syurga terbuka bagi kita.

 

Al-Auza'I menafsirkan, bahwa orang yang bermusuhan itu adalah orang yang di dalam hatinya terdapat rasa memusuhi sahabat Nabi saw. 

Mengutip Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, dalam bukunya berjudul "12 Bulan Mulia, Amalan Sepanjang Tahun," permusuhan seperti ini disebut sebagai permusuhan yang lebih besar dosanya daripada permusuhan biasa. Al-Auza'i mengatakan, "Memusuhi sahabat merupakan bidah yang memecah belah umat."

Sementara Ibnu Sauban mengatakan, bahwa orang yang bermusuhan adalah orang yang mematikan sunah Nabi SAW, menikam umat, dan menumpahkan darah mereka. 

Disebutkan, bahwa permusuhan ini berarti sama dengan bidah yang dilakukan oleh golongan Khawarij, Rawafidh, dan yang sejenisnya.

Selain itu, orang yang dalam permusuhan juga dijelaskan sebagai orang yang di dalam hatinya ada perasaan dengki, khianat terhadap sesama Muslim. 

Hal demikian disebut sebagai permusuhan batiniah terhadap orang-orang Islam. Sebaliknya, orang yang jauh dari permusuhan adalah mereka yang di dalam dadanya bersih dari rasa permusuhan, terutama dari membenci para sahabat dan sesama kaum Muslim.  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement