Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Menag Sebut Radikalisme Menyusup di PAUD

Rabu 11 Dec 2019 16:34 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Menag menyebut radikalisme menyusup di PAUD. Foto: Menteri Agama Fachrul Razi

Menag menyebut radikalisme menyusup di PAUD. Foto: Menteri Agama Fachrul Razi

Foto: Republika/Fauziah Mursid
Menag akan menghilangkan radikalisme di PAUD.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menteri Agama Fachrul Razi mengakui adanya paparan paham radikalisme di sektor pendidikan Paud. Untuk itu dia mengaku bakal mengeliminasi radikalisme di Indonesia, termasuk di Paud. 

Baca Juga

"Paud ada (dugaan terpapar radikalisme), tapi kita coba eliminasi," kata Menag Fachrul, di Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (11/12). 

Meski telah merevisi bahan ajar, menurutnya materi sejarah Islam tidak akan dihilangkan. Kendati demikian dalam lingkup pendidikan agama, para guru akan difilter secara kapasitas. 

Filterisasi guru ini mengacu pada kapasitas pengetahuan guru terkait fikih. Sebab, kata dia, apabila hanya mengajar sejarah namun tidak memahami fikih dengan benar maka dikhawatirkan, para guru pengajar memiliki aliran fikih yang sesat. 

"Kalau fikihnya bisa sesat, maka perlu ada bimbingan (ke guru)," ujarnya. 

Sebelumnya, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin menyebut Kementerian Agama bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menelusuri dugaan radikalisme yang diajarkan di Paud, beberapa waktu lalu. Wapres kerap menyebut adanya dugaan pengajaran radikalisme di lembaga pendidikan. 

Wapres Ma'ruf Amin juga menyampaikan perlu pengajaran pada anak sejak Paud hingga tingkat SD untuk melawan radikalisme. Pernyataan ini lantas menjadi kontroversi dan tak sedikit organisasi masyarakat (ormas) Islam yang setuju, salah satu ormas Islam paling keras yang menolak pernyataan ini adalah Muhammadiyah. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA