Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

5 Modal Indonesia Jadi Bangsa Kuat, Toleransi Agama Termasuk

Selasa 03 Dec 2019 20:10 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Toleransi umat beragama terbina baik secara umum di Indonesia. Foto Masjid dan gereja berdiri berdampingan di Nusa Dua Bali simbol kerukunan di Indonesia.

Toleransi umat beragama terbina baik secara umum di Indonesia. Foto Masjid dan gereja berdiri berdampingan di Nusa Dua Bali simbol kerukunan di Indonesia.

Foto: Musiron Republika
Bangsa Indonesia dianugerahi beragam agama yang toleran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan, bangsa Indonesia mempunyai modal sosial untuk menjadi bangsa yang kuat dan kokoh. Tapi sekarang sedang menghadapi tantangan besar antara lain karena efek negatif  media sosial.

Baca Juga

Ketua Lakpesdam PBNU, Rumadi Ahmad, mengatakan sekarang ada kelompok yang menghalalkan kekerasan atas nama agama, mempertentangkan antara agama dan tradisi lokal, dan mempersoalkan ideologi negara. Mereka kerap memanfaatkan media sosial.  

Beruntung, kata dia, Indonesia mempunyai modal sosial yang menjadikan Indonesia kuat. Rumadi menyampaikan, modal sosial pertama, bangsa Indonesia tidak mempunyai memori perang antaragama. 

"Karena agama-agama di Indonesia terutama Islam disebarkan melalui proses yang damai, bukan dengan pedang dan darah," kata Rumadi dalam Forum Dialog Publik dan Literasi di Pemalang, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, modal sosial kedua adalah proses beragama masyarakat Indonesia yang memadukan antara agama dan tradisi lokal. Modal sosial ketiga, karakter masyarakat yang toleran dan moderat sebagai hasil dari proses panjang.

Rumadi melanjutkan penjelasannya, modal sosial keempat adalah keberhasilan para pendahulu bangsa Indonesia termasuk para ulama yang dapat memadukan antara agama dan kebangsaan, Islam, dan nasionalisme. 

Modal sosial kelima, kata dia, Indonesia dianugerahi adanya organisasi-organisasi sosial keagamaan yang menjadi penopang tegaknya pilar-pilar bangsa seperti NU dan Muhammadiyah.

Forum Dialog Publik dan Literasi diselenggarakan Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo bersama Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP FKDT). Pakar Pemikiran Islam dari UIN Walisongo, Muhammad Nafis Junalia, menjadi salah satu narasumbernya

Nafis mengatakan, Islam yang rahmatan lil 'alamin setidaknya harus terwujud dalam tiga matra. Pertama, realitas kehidupan yang damai, lembut, penuh kasih sayang dan jauh dari segala bentuk kekerasan. 

Kedua, kondisi aman dari ancaman mara bahaya dan huru hara. Ketiga, jaminan kelancaran dan ketercukupan pasokan kebutuhan hidup, utamanya bagi warga yang membutuhkan.

"Profil Islam seperti inilah yang diemban dan telah diwujudkan Rasulullah Muhammad SAW, dan model Islam seperti ini pula yang dibutuhkan untuk membangun masa depan Indonesia," ujarnya.

Ketua Umum DPP FKDT, Lukman Hakim, mengajak masyarakat khususnya komunitas Madrasah Diniyah untuk tidak pernah lelah menanamkan Islam yang rahmatan lil 'alamin kepada para santri. Sehingga umat Islam Indonesia akan mampu mengawal bangsa ini dari ancaman radikalisme, intoleransi dan berbagai bahaya yang mengancam NKRI.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA