Jumat 13 Feb 2026 20:58 WIB

Dugderan 2026: Simbol Akulturasi dan Pesan Toleransi dari Kota Semarang

Dugderan adalah simbol kebersamaan warga Semarang.

Sejumlah penari menampilkan tarian Trilogi Budaya Dugderan saat mengikuti tradisi kirab budaya Dugderan di halaman Balaikota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2025). Tradisi kirab Dugderan yang diikuti ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1881 dan digelar Pemerintah Kota Semarang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1446 H sekaligus mengenalkan budaya kearifan lokal serta akulturasi lintas budaya kepada masyarakat terutama generasi muda.
Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Sejumlah penari menampilkan tarian Trilogi Budaya Dugderan saat mengikuti tradisi kirab budaya Dugderan di halaman Balaikota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2025). Tradisi kirab Dugderan yang diikuti ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat tersebut sudah berlangsung sejak tahun 1881 dan digelar Pemerintah Kota Semarang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1446 H sekaligus mengenalkan budaya kearifan lokal serta akulturasi lintas budaya kepada masyarakat terutama generasi muda.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa tradisi Dugderan bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan simbol kuat akulturasi budaya dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Tradisi ini dijadwalkan berlangsung lebih megah pada Senin (16/2) mendatang dengan mengusung tema "Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi".

Baca Juga

"Dugderan adalah simbol kebersamaan warga Semarang. Kami ingin tradisi ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk menikmati kekayaan budaya sekaligus mempererat persaudaraan. Ini adalah momentum penguatan identitas kota yang inklusif," ujar Agustina di Semarang, Jumat (13/2).

Pawai Lintas Budaya dan Ikon Religi

Perayaan tahun ini dinilai sangat istimewa karena pelaksanaannya berdekatan dengan perayaan Imlek. Hal ini mempertegas jati diri Semarang sebagai kota toleran melalui rute karnaval yang melintasi berbagai ikon religi lintas budaya. Untuk menjaga kekhidmatan, prosesi dibagi menjadi dua sesi utama.

Sesi pertama adalah Pawai Budaya Dugder yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dan komunitas seni, bergerak dari Balai Kota menuju kawasan Alun-Alun Kauman. Selanjutnya pada sesi kedua, perjalanan dilanjutkan oleh rombongan bus Wali Kota menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) melalui Jalan Wahid Hasyim tanpa iringan parade.

Edukasi bagi Generasi Muda

Selain panggung utama, keberlanjutan tradisi ini turut menyasar generasi muda melalui Kirab Dugder Anak. Dengan rute dari SD Marsudirini menuju Thamrin Square, keterlibatan ribuan pelajar dan pegiat seni menjadi bukti bahwa nilai historis dan spiritual Dugderan tetap relevan di tengah modernisasi.

"Jika generasi muda mencintai akar budayanya sejak dini, mereka akan tumbuh dengan rasa bangga terhadap identitas kotanya. Edukasi melalui pengalaman langsung seperti ini sangat penting bagi keberlanjutan warisan leluhur kita," tambah Wali Kota.

Magnet Wisata Internasional

Pemerintah Kota Semarang berharap Dugderan 2026 mampu menjadi magnet wisata budaya yang menarik kunjungan wisatawan nasional maupun mancanegara.

Dengan integrasi nilai religi, seni, dan toleransi yang kental, festival ini menjadi pernyataan tegas bahwa Semarang adalah rumah bagi keberagaman yang harmonis. "Dugderan ini sejatinya adalah milik semua warga," pungkas Agustina.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement