Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

BMH Bangun Asrama untuk Santriwati Penghafal Quran di Maros

Selasa 03 Dec 2019 06:01 WIB

Red: Irwan Kelana

Para santriwati penghafal Alquran di Maros, Sulawesi Selatan,  berfoto bersama di depan asrama yang baru selesai dibangun.

Para santriwati penghafal Alquran di Maros, Sulawesi Selatan, berfoto bersama di depan asrama yang baru selesai dibangun.

Foto: Dok BMH
Para santriwati itu yatim dhuafa penerima beasiswa penghafal Quran dari BMH.

REPUBLIKA.CO.ID, MAROS – Upaya memberikan layanan pendidikan bagi generasi bangsa sungguh begitu luas lingkup yang harus dijangkau.  Mulai dari beasiswa hingga sarana dan prasana yang sangat dibutuhkan agar proses pendidikan berjalan dengan baik.

"Hal itulah yang terus diupayakan oleh Laznas BMH secara perlahan di berbagai wilayah di Indoensia, termasuk Sulawesi Selatan. Alhamdulillah berkat kepercayaan umat, BMH Perwakilan Sulawesi Selatan  dapat membangun asrama untuk santriwati penghafal Alquran di Maros, Sulawesi Selatan," terang Kepala BMH Perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel), Kadir melalui rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (2/11).

Ia menambahkan, sebanyak 18 santriwati yatim dhuafa penerima beasiswa penghafal Alquran dari BMH Sulsel  kini telah tinggal di asrama sendiri.

"Alhamdulillah kami para santriwati sangat bersyukur.  Kini kami telah memiliki asrama sendiri.  Terima kasih BMH dan seluruh donatur yang memberikan bantuan untuk kami di sini," ungkap Mahdaniah, salah seorang santriwati.

Kadir menyebutkan, keberadaan asrama tersebut disambut gembira oleh para santri.  "Mereka sangat bersyukur, sekalipun masih berupa asrama panggung sederhana," imbuh Kadir.

Asrama yang terletak di Dusun Baku, Desa Lekopancing, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros ini nantinya akan menjadi pusat aktivitas yang menunjang kegiatan belajar para santriwati.

Asrama dengan model rumah panggung tersebut dibagi beberapa bagian. Bagian atasnya difungsikan menjadi tempat tidur para santri. Sementara kolong bawah asrama, disekat menjadi ruang belajar sekaligus mushalla.

"Sebelumnya, selama satu tahun, 18 santriwati ini menumpang tinggal dan belajar di sebuah rumah kontrakan. Lokasinya tidak jauh dari asrama mereka yang sekarang. Subhanallah ini adalah wujud satu kekuatan solidaritas, karena ini semua merupakan patungan banyak muhsinin (orang baik) yang sinergi bersama BMH," jelas Kadir.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA