Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Ada Tiga Cara Allah Mendidik Rasulullah SAW

Selasa 12 Nov 2019 06:08 WIB

Red: Agung Sasongko

Rasulullah

Rasulullah

Foto: wikipedia
Tuhanku telah mendidikku, maka Dia menjadikan pendidikanku yang terbaik

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Kosim

Tuhanku telah mendidikku, maka Dia menjadikan pendidikanku yang terbaik." Demikian salah satu hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Nabi Muhammad SAW adalah hamba terbaik yang diutus Allah SWT di sepanjang sejarah kehidupan ma nusia hingga akhir masa. Itu keya kinan setiap Muslim. Oleh karena itu, ia menjadi teladan bagi umat manusia (QS al-Ahzab [33]: 21).

Setidaknya ada tiga cara Allah mendidik Nabi. Pertama, pendidikan by design. Pendidikan Nabi SAW sudah direncanakan dan didesain Allah SWT. Perhatikanlah silsilah Nabi Muhammad. Ayahnya bernama Ab dullah, berarti hamba Allah. Ibunya bernama Aminah, artinya dapat di percaya. Lalu kakeknya, Abdul Muthalib, memberi nama Muhammad yang artinya orang yang terpuji. Silsilahnya sampai kepada Nabi Ismail bin Ibrahim AS.

Dalam kandungan, ayahnya wafat. Masih usia anak-anak, bunda tercinta juga dipanggil Allah. Muhammad men jadi yatim piatu. Meski yatim pia tu, ia dididik di lingkungan yang baik sehingga mendukung pertumbuhan mental dan fisiknya. Ia diasuh kakek, lalu berpindah pada pamannya, Abu Thalib. Ketika ditanya soal perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah pengasuhan ini, Nabi Muhammad menjawab, "Begitulah cara Allah mendidikku sehingga tak ada satu orang pun yang sangat berpengaruh dalam hidupku, termasuk orang tuaku sendiri."

Kedua, pendidikan berbasis prophetic atau kenabian. Di usia 40 ta hun, Muhammad diangkat menjadi rasul. Penetapan nya sebagai nabi dan rasul menunjukkan bahwa Allah SWT mendidik Muhammad mengandung pendekatan profan atau bermuatan "kelangitan".

Sebagai Nabi, Allah mendidiknya dengan tuntunan wahyu melalui Ma laikat Jibril. Perkataan dan per buat annya mengandung ajaran mulia karena didasari oleh wahyu, bukan hawa nafsu. Ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Nabi, ia berkata, "Dan akhlak Nabi itu adalah Alquran."

Ketiga, pendidikan dalam pemeliharaan dan pengawasan Allah. Di antara bentuk pengawasan Allah ada lah memeliharanya dari perbuatan maksiat. Di saat remaja, misalnya, Muhammad ingin melihat pesta yang dipenuhi oleh hiburan sarat maksiat.

Tiba-tiba saja ia letih dan mengantuk berat sehingga ia tertidur. Saat terbangun, hari sudah siang sehingga ia tidak melihat hiburan bermaksiat tersebut. Hal itu juga terjadi keesokan harinya. Demikian Allah menjaga nabi dari lingkungan buruk.

Sebagai umat Muhammad, kita perlu merancang pendidikan berbasis Islam, mengandung misi prophetic, dengan tauhid sebagai poros utama. Wallahu a'lam. ¦ 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA