Ahad 10 Nov 2019 22:22 WIB

Mengenal HSM Nasaruddin Latif, Sang Penasihat Perkawinan

Kisahnya menginspirasi orang.

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
Mahar pernikahan/ilustrasi
Mahar pernikahan/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kisahnya banyak menginspirasi orang. Semuanya ditulis sendiri dalam buku biografi oleh sang anak Muhammad Fuad Nasar. Buku berjudul, HSM Nasaruddin Latif : biografi dan pemikiran (1996) membahas jejak hidup hingga pemikirannya mengenai pernikahan dalam Islam.

Nasaruddin memang dikenal sebagai pendiri organisasi yang bergerak di bidang penasihat perkawinan pertama di Indonesia. Langkah tersebut didorong keprihatinannya melihat tingginya angka talak (perceraian) di Tanah Air yang mencapai 500 ribu per tahun atau sekitar 60 hingga 70 persen dari jumlah pernikahan.

Perceraian sewenang-wenang sangat merugikan perempuan dan anak-anak. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan kurangnya pemahaman masyarakat tentang nilai perkawinan dan keluarga. Masalah ini tidak hanya merusak sendi-sendi kehidupan kemasyarakatan, bahkan dapat merun tuhkan akhlak dan kepribadian serta meluasnya kemaksiatan.

Sejak usia muda dia menekuni profesi sebagai pendidik, yaitu menjadi guru Madrasah Putri di Padang dan Guru Sekolah Muallimin Muhammadiyah. Ketika itu, dia aktif berkecimpung di lingkungan organisasi Muhammadiyah sebagai pengurus. Nasaruddin lahir 18 September 1916 di sebuah nagari (desa) di tepi barat Danau Singkarak, Sumatra Barat, yaitu Sumpur Padang Panjang. Dia merupakan anak pertama dari keluarga Muhammad Latif dengan istrinya Nipah Usman.

 

Sejak muda bakat intelektual dan pekerja sosial lebih menonjol dalam dirinya. Nasaruddin menamatkan Sekolah Rakyat Volkschool dan Vervolgschool tahun 1930 serta melanjutkan ke Perguruan Thawalib Pa dang Panjang. Guru-gurunya di Thawalib antara lain pendiri Thawalib, yaitu Syekh Dr H Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), Abdul Hamid Hakim Tuanku Mudo, Zainal Abidin Ahmad, dan Mawardi Muhammad.

Sewaktu di Thawalib, di samping mempelajari bahasa Arab, Nasaruddin mempelajari secara privat bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Membaca buku berbahasa asing dan menyimak pidato tokoh pergerak an menjadi kegemaran di masa mudanya. Dia juga rajin belajar di ruang kelas. Pada tahun 1935 Nasaruddin Latif lulus dari Thawalib dengan nilai terbaik.

Teman sekolahnya Prof A Hasjmy dalam auto biografi Semangat Merdeka: 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan Perjuangan Kemerdekaan (1985) mencatat murid Tha walib yang lulus istimewa dengan nilai terbaik dalam ujian akhir sesuai urutannya ialah Nasaruddin Latif, A Hasjmy, Teungku Abdul Djalil dan Dahlan Ibrahim. Nasa ruddin Latif melanjutkan pada sekolah Normaal Islam di kota Padang, tapi tidak sampai tingkat akhir.

Setelah merantau ke Jakarta bersama orang tuanya tahun 1937 dalam usia 21 tahun Nasaruddin bersahabat dengan para pemimpin dan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Haji Agus Salim, Mr Kasman Singodimedjo, Mohamad Roem, dan lain-lain. Dia tidak melewatkan kesempatan menimba ilmu dari Haji Agus Salim.

Nasaruddin kemudian menjadi Asisten Khusus Dr. H. Abdul Karim Amrullah menyelenggarakan Kursus Muballigh di Jakarta tahun 19421945. Di samping itu mengajar di Sekolah Muhammadiyah dan menjadi muballigh Muhammadiyah.

Nasaruddin masuk di Kementerian Agama Republik Indonesia tidak lama setelah kementerian yang dipimpin pertama kali oleh H M Rasjidi itu berdiri. Kementerian Agama merekrut tenaga-tenaga potensial umat Islam dari berbagai organisasi maupun golongan yang bisa memajukan kementerian hasil perjuangan ulama dan tokoh Islam itu.

Salah satu kiprah Nasaruddin yang meninggalkan catatan berarti dalam sejarah Kementerian Agama adalah beliau memprakarsai pembentukan Kantor Urusan Agama di wilayah Kotapraja Jakarta Raya (kini Kanwil DKI Jakarta) bersama rekannya H Sulaiman Rasjid dan H Z Arifin Datuk pada tahun 1950. Pada tahun 1954 dia diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kotapraja Jakarta Raya sampai 1963 yang kantornya di Jalan Pintu Air Jakarta Pusat.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement