Kamis 31 Oct 2019 16:30 WIB

Seni Penjilidan Abad Pertengahan, Seperti Apa?

Material dan teknik penjilidan di dunia Islam cenderung tidak berubah

Buku kuno (ilustrasi)
Foto: Pixabay
Buku kuno (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Material dan teknik penjilidan di dunia Islam cenderung tidak berubah dari waktu ke waktu. Caranya pun cukup sederhana. Kertas-kertas yang sudah berisi tulisan disusun dengan rapi lalu dijahit pada salah satu ujungnya. Bentuk jahitannya saling bertaut atau biasa disebut jahitan berantai.

Setelah dijahit, pada ujung buku itu dilapisi dengan kain linen. Kain ini berfungsi untuk menjaga kekuatan jahitan, memberikan kelenturan, dan menyalurkan tarikan benang sehingga lebih seimbang.

Baca Juga

Selain itu, dengan menggunakan kain ini, buku tersebut akan lebih mudah jika akan dipasangi sampul. Kain yang melapisi jahitan itu sengaja dilebihkan sekitar 20 sampai 25 milimeter di kedua sisinya. Tujuannya agar menjadi semacam engsel untuk sampul yang akan dipasang. Setelah sampul disatu kan pada buku, bagian atas dan bawah kembali dijahit untuk memperkuat struktur penjilidan.

Pada abad ke 14, jahitan pada ujung atas buku itu diguna kan benang sutra yang terdiri dari dua warna sehingga hasil jahitannya membentuk motif seperti tanda kepangkatan. Sampul pada buku-buku di dunia Islam abad pertengahan memiliki karakteristik tersendiri. Pada satu sisi sampul yang biasanya terbuat dari kulit, sengaja ada bagian yang dilebihkan. Ujung bagian itu dibuat meruncing seperti tutup amplop.

Saat buku ditangkupkan, bagian yang berlebih itu menjadi semacam penutup. Kemudian, untuk merekatkan bahan-bahan penjilidan itu hingga membentuk buku yang utuh, tentunya dibutuhkan perekat atau lem.

Sebagai perekat biasanya digunakan pasta tumbuhan asphodel, tepung gandum, dan getah. Lem ini sangat efektif untuk merekatkan bahan-bahan yang terbuat dari kertas, kulit, dan kain.

Selain berasal dari tumbuhtumbuhan, lem juga ada yang dibuat dari hewan, seperti carian pada bagian kaki ternak (pada bagian kikil), siput, dan ikan. Lem hewani ini digunakan untuk merekatkan ornamen emas atau perak pada sampul buku.

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement