Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Umat Islam di Suriname Jaga Tradisi

Jumat 25 Oct 2019 11:41 WIB

Red: Agung Sasongko

Pengunjung mengamati karya foto di Pameran Foto Java To Suriname di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (22/9). (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Pengunjung mengamati karya foto di Pameran Foto Java To Suriname di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (22/9). (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Upacara mitoni (tujuh bulan kehamilan) masih dilakukan oleh Muslim Suriname.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hingga kini, sebagian besar kelompok Jawa Suriname masih tetap mempertahankan budayanya. Karena pemahaman budaya Jawa tidak mendalam dan yang diceritakan pada anak cucunya juga sekenanya, atau sesuai yang mereka mengerti, maka simbol-simbol kebudayaan yang dijaga adalah simbol-simbol yang setidaknya pernah mereka kenal dan lakukan ketika masih di Jawa.

Upacara mitoni (tujuh bulan kehamilan) masih dilakukan oleh Muslim Suriname asal Jawa, begitu pula adat Jawa dalam perkawinan serta kematian. Budaya Jawa masih diajarkan kepada anak-anak mereka, misalnya, acara slametan. Pada saat hari raya Islam, umat Islam di Suriname biasa berziarah.

Baca Juga

Selain itu, umat Islam Suriname keturunan Jawa masih menggelar acara memperingati kematian tujuh hari, 40 hari, dan 100 hari. Standarnya tak bisa disamakan dengan Jawa  atau Islam di Indonesia. Mereka punya kebudayaan sendiri. Kita hanya menemukan kemiripan di dalamnya,” ungkap Koordinator peneliti migrasi Jawa Suriname dari LIPI, Aswatini.

Migrasi suku Jawa ke mancanegara umumnya hanya diketahui berlangsung ke Suriname di Amerika Selatan. Masyarakat Jawa Suriname yang mulai didatangkan sebagai kuli kontrak pada 1890 sudah mampu mengorganisasi diri. Pada 1918, mereka mendirikan perkumpulan bernama Tjintoko Moeljo.

Masyarakat Jawa Suriname terkonsentrasi di sejumlah distrik, seperti Commewijne, Saramacca, dan Nickerie. Masyarakat Jawa yang beragama Islam itu pun mendirikan masjid dan Perkumpulan Islam Indonesia pada 1932.

Namun, ada keunikan karena perbedaan soal kiblat bagi masyarakat Jawa di Suriname. Sejatinya, negara itu berada di sebelah barat Kota Suci Makkah, Arab Saudi, sedangkan masjid di Indonesia yang berada di sebelah timur Arab Saudi memiliki kiblat ke barat.

Sebagian kelompok umat Islam Suriname asal Jawa pun banyak yang membangun masjid dengan berkiblat ke barat seperti di Jawa. Namun, ada juga yang membangun masjid dengan berkiblat ke arah timur, sesuai letak Suriname yang berada di barat Arab Saudi.

Terkait perbedaan itu, hingga kini masih terdapat dua macam arah masjid. Pengikutnya pun dibedakan antara penganut aliran Barat yang lebih mempraktikkan Islam kejawen dan aliran Timur yang lebih Islam murni.

Namun, umat Islam di Suriname hidup rukun. Mereka menikah dengan teman-teman senasib dan menjadi cikal bakal penduduk diaspora Jawa. Generasi muda di Suriname kerap mengatakan bahwa kakek dan nenek mereka menikah di kapal atau di perkebunan.

Suku Jawa merupakan kelompok etnis terbesar ketiga di Suriname setelah kelompok Kreol (turunan dari Afrika) dan Hindustan (India). Populasi keturunan suku Jawa di Suriname mencapai 20 persen dari total penduduk yang mencapai 400 ribu orang. Islam menjadi agama terbesar ketiga setelah Kristen dan Hindu.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA