Senin 20 Mar 2023 19:08 WIB

Tantangan Dai Ambassador DD untuk Berdakwah ke Suriname

Dai ambassador DD harus menginspirasi banyak orang melalui dakwahnya.

Rep: Muhyiddin/ Red: Erdy Nasrul
Salah satu Dai Ambassador Dompet Dhuafa, Ustadz Badrussalim saat diwawancara usai acara Pelepasan Dai Ambassador di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (20/3/2023).
Foto: Republika/Muhyiddin
Salah satu Dai Ambassador Dompet Dhuafa, Ustadz Badrussalim saat diwawancara usai acara Pelepasan Dai Ambassador di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (20/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umat Islam seluruh dunia sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. Para dai pun mulai bersiap-siap untuk menysiarkan ajaran Islam, termasuk ke luar negeri. Salah satu dai yang akan berdakwah ke luar negeri adalah Ustadz Badrussalim dari Kebumen, Jawa Tengah.

Pada Ramadhan tahun ini, Ustaz Badrus menjadi salah satu dai yang akan dikirimkan Dompet Dhuafa ke Suriname melalui program Dai Ambassador. Surineme adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Prancis di timur dan Guyana di barat.

Baca Juga

"Saya penugasan di Suriname, itu di antara distanasi dakwah untuk tahun ini dan ini negara yang terjauh, mohon doa restunya," ujar Ustaz Badrus kepada Republika dalam acara Pelepasan Dai Ambassador di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (20/3/2023).

Ada sejumlah tantangan yang akan dihadapinya untuk berdakwah di Suriname. Pertama, menurut dia, untuk menuju ke negara itu membutuhkan waktu yang sangan lama. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Ustaz Badrus.

"Pertama adalah perjalanan ke sana, saya lihat di tiket itu kurang lebih 24 jam lebih, kita transit di Belanda, kemudian ke sana," ucap dia. 

Ustaz Badrus menuturkan, etnis Jawa di Suriname sendiri memang cukup banyak. Setidaknya ada 14 persen etnis Jawa yang tinggal di negara itu. Menurut dia, umat Islam di Suraname juga ada sekitar 14 persen. Karena itu, hal itu cukup memudahkan Ustaz Badrus untuk menyampaikan dakwahnya. 

Namun, menurut dia, yang menjadi tantangan selanjutnya adalah ketika akan berdakwah kepada komunitas di luar etnis Jawa tersebut. Karena, menurut dia, masyarakat di Suriname menggunakan bahasa Belanda. 

"Mungkin tantangannya adalah ketika nanti mendakwahkan selain daripada etnis Jawa. Jadi ketika akan komunikasi dengan mitra di sana butuh kompetensi berbahasa Belanda. Karena bahasa nasionalnya bahasa Belanda. Karena dulu jajahan Belanda," kata Ustaz Badrus. 

Ketika berdakwah di Suraname, dia tentu juga akan berhadapan dengan masyarakat yang berbeda-beda. Namun, Ustaz Badrus tidak khawatir. Karena, sejak masuk pesantren, dia telah diajarkan untuk selalu menghargai perbedaan, baik di pesantren modern maupun di pesantren salaf. 

"Saya pernah dididik di pesantren dan diajarkan berukhuwah dengan berbagai suku bangsa dari seluruh Indonesia. Sehingga saya sudah terbiasa dengan perbedaan ini. Itu memupuk kami di dalam berdakwah lintas negara yang di situ masyarakatnya beragam etnis," jelas Ustaz Badrus.

Ustaz Badris telah ditempa dengan berbagai ajaran agama untuk menjadi seorang dai internasional. Dia adalah seorang santri kelana. Setidaknya ada lima pesantren yang telah disinggahi untuk belajar agama, baik pesantren salaf maupun modern. 

Ustaz Badrus pernah menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Modern Gading Kroya, Jawa Tengah. Selain itu, dia juga pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Al Huda Jetis Kebumen, Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Al Ikhsan Beji Banyumas, dan Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri. 

"Kalau di pesantren salaf itu biasanya menggunakan bahasa Jawa. Kultur bahasa Jawanya itu kental. Nah ini pas sekali ketika di Suriname sudah ada sedikit bekal untuk menyampaikan dengan menggunakan bahasa Jawa," ucap dia. 

Sebelumnya, Ustaz Badrus juga beberapa kali ditugaskan berdakwah ke luar negeri. Ia bergabung dengan Dai Ambassador Dompet Dhuafa sejak 2014 lalu. Pada saat itu, ia ditugaskan untuk berdakwah ke Malaysia pada bulan Ramadhan.

"Pertama 2014 saya ke Malaysia, tapi karena ayah meninggal saya mohon izin," kata dia. 

Pada 2015, baru lah ia bisa berdakwah untuk pertama kalinya ke Timor Leste. Pada Ramadhan 2018 dan 2019, Ustaz Badrus juga pernah ditugaskan kembali menjadi Dai Ambassador ke Hongkong selama Ramadhan.

"Jadi kalau yang pertama di negara tedekat, saya sekarang yang terjauh. Alhamdulillah keluarga sangat mendukung dan mudah-mudahan menjadi amal baik mereka juga dengan kesabaran dakwah ketika ditinggal suaminya untuk melakukan tugas,"  jelas Ustaz Badrus. 

Pada Ramadhan kali ini, Ustaz Badrus akan kembali meninggalkan istri dan anaknya untuk berdakwah selama sebulan penuh. Namun, ia bersyukur selalu mendapat dukungan penuh dari keluarganya. 

"Alhamdulillah khususnya istri dulu juga santri. Jadi sudah memahami risiko dakwah. Hanya satu bulan kita sudah terbiasa. Karena, ini juga bukan hanya yang kali pertama," tutupnya. 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement