Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Masjid di Burkina Faso Diserang

Senin 14 Okt 2019 09:38 WIB

Red: Agung Sasongko

Ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou.

Ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou.

Foto: Reuters/Joe Penney
16 orang meninggal dalam serangan masjid di Burkina Faso

REPUBLIKA.CO.ID,OUAGADOUGOU -- Sejumlah pria bersenjata telah melakukan penyerangan terhadap sebuah masjid di masjid di Burkina Faso, negara di Afrika Barat. Serangan terhadap masjid di desa Salmossi utara pada Jumat (11/10) malam waktu setempat itu telah menewaskan setidaknya 16 orang. 

Sumber keamanan mengatakan, bahwa sejumlah orang bersenjata memasuki Masjid Agung di desa yang terletak di wilayah Oudalan yang berbatasan dengan Mali dan menembaki jamaah yang telah melaksanakan shalat di dalam masjid. Sementara warga lainnya di desa itu melarikan diri. 

Satu sumber mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa 13 orang meninggal di tempat dan tiga lainnya meninggal karena luka-luka. Sedangkan dua dari yang terluka itu berada dalam kondisi kritis. 

"Sejak pagi ini, orang-orang sudah mulai melarikan diri dari daerah tersebut," seorang warga dari kota terdekat di Gorom-Gorom kepada AFP, seperti dilansir di Aljazeera, Ahad (13/10). 

Konflik Burkina Faso ini menjadi rekor krisis kemanusiaan. Pasalnya, ada nuansa kepanikan meskipun ada bala bantuan militer yang dikerahkan setelah serangan mematikan itu. 

Sementara itu, sebuah sumber keamanan dan seorang pejabat setempat mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa sekitar 15 orang tewas dalam serangan itu. Namun begitu, identitas pada pelaku bersenjata tersebut belum diketahui jelas.

Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang kekerasan terkait dengan kelompok-kelompok bersenjata terjadi di negara ini. Termasuk, dari jaringan seperti al-Qaeda dan ISIS. Kelompok-kelompok tersebut menyebarang ke Burkina Faso melalui negara tetangga Mali. Mereka telah menyulut ketegangan etnis dan agama, terutama di wilayah utara. 

Menurut jumlah korban yang dikumpulkan oleh AFP, kekerasan dari kelompok bersenjata di Burkina Faso telah menewaskan hampir 600 orang. Sedangkan kelompok-kelompok masyarakat sipil mencatat jumlah lebih dari 1.000 dari serangan yang terjadi hampir setiap hari.

Akibatnya, menurut badan pengungsi PBB, hampir 500.000 orang telah meninggalkan rumah mereka karena berbagai insiden kekerasan tersebut. Di sisi lainnya, hampir 3.000 sekolah telah ditutup dan hal itu juga berdampak pada ekonomi pedesaan, dan mengganggu perdagangan serta pasar setempat. Pekan lalu, sebanyak 20 orang tewas dalam serangan yang dilakukan orang-orang bersenjata di lokasi penambangan emas di utara. 

Di sisi lain, pasukan pertahanan dan keamanan Burkina Faso tidak diperlengkapi dengan baik, kurang terlatih dan terbukti tidak mampu menghentikan meningkatnya kekerasan tersebut. Namun meski dilanda kekerasan, banyak warga Burkinabes menentang kehadiran pasukan asing di wilayah mereka. 

Pada Sabtu lalu, sekitar 1.000 orang menggelar aksi protes di ibukota Ouagadougou mengecam terorisme dan keberadaan pangkalan militer asing di Afrika. Salah satu koordinator aksi unjuk rasa itu, Gabin Korbeogo, mengatakan bahwa terorisme kini telah menjadi dalih yang ideal untuk membuat pangkalan militer asing di negara mereka. 

"Pasukan Prancis, Amerika, Kanada, Jerman dan lainnya telah menginjakkan kaki di sub-wilayah kami, dengan mengatakan mereka ingin memerangi terorisme. Tetapi meskipun kehadiran besar-besaran itu, kelompok-kelompok teroris justru semakin kuat," katanya kepada AFP. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA