Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Masuknya Ajaran Tauhid dalam La Galigo

Selasa 08 Oct 2019 18:48 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko

Museum La Galigo kawasan benteng Fort Rotterdam, Makassar.

Museum La Galigo kawasan benteng Fort Rotterdam, Makassar.

Foto: Republika/ Maman Sudiaman
Ulama mengenalkan ajaran tauhid melalui epos La Galigo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Para ulama, intelektual, dan penulis Muslim sangat menyadari sulitnya menggeser kepercayaan masyarakat yang sudah melekat dari generasi ke generasi. Karena itu, mereka menggunakan pendekatan budaya untuk menggeser secara perlahan kepercayaan masyarakat itu. Dengan demikian, secara perlahan dan bertahap mereka memercayai Allah SWT. 

Baca Juga

Penulis buku Islamisasi Bugis, Andi Muhammad Akhmar, menerangkan, para ulama dan penulis Muslim memanfaatkan epos La Galigo yang sudah dipercaya dari generasi ke generasi oleh masyarakat Bugis. Mereka menyisipkan ajaran-ajaran Islam ke dalam epos itu sehingga terjadi perubahan. 

Menurut Akhmar, terjadi perubahan komposisi dalam bentuk penambahan, pengurangan atau pemutarbalikan dalam teks La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa We Attaweq. Namun, hal itu merupakan wujud kebebasan penyair atau penulis. Namun, kebebasan penyair tersebut tetap dalam bingkai.

Bingkainya adalah tema perkawinan di kalangan keturunan Batara Guru atau kerabatnya. Sementara itu, tokoh-tokohnya adalah dari kalangan dewa atau keturunannya yang berkuasa di Bumi. Penggunaan nama tempat yang meliputi dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. 

"Dengan demikian, cerita-cerita baru atau yang telah mendapatkan unsur-unsur baru tetap menjadi bagian dari warisan sastra La Galigo, kehadiran unsur Islam dalam La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa We Attaweq ini tidak menggeser keberadaan kepercayaan lama, me lainkan disajikan secara berdampingan," jelasnya. 

Akhmar berpandangan, yang telah dilakukan oleh penulis La Galigo versi itu menunjukkan kreativitas penyair dalam memanfaatkan sastra yang telah mapan di masyarakat Bugis untuk misi Islamisasi. Menurutnya, Islamisasi dengan menggunakan sastra sebagai medianya itu menggunakan pendekatan kompromis. 

Sebab, para pendakwah Islam pada saat itu menyadari, sangat tidak mudah mengganti suatu bentuk kepercayaan yang telah lama bersenyawa dalam jiwa suatu masyarakat. Maka, langkah awal Islamisasi Bugis yaitu dengan menggeser konsep kepercayaan masyarakat kepada Dewata Seuwea dengan konsep Allah SWT melalui ajaran-ajaran tauhid. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA