Senin 30 Sep 2019 12:12 WIB

Berkah Jujur

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran kepada kita.

Takwa (ilustrasi).
Foto: alifmusic.net
Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur

Suatu hari, seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Wasilah bin Iqsa sedang berada di pasar ternak. Tak sengaja ia melihat dua orang tengah tawar-menawar unta. Ketika ia lengah, si pembeli telah resmi membeli unta tersebut seharga 300 dirham dan menuntunnya untuk dibawa pulang.

Wasilah bergegas mencegat si pembeli seraya bertanya, Apakah unta yang kamu beli itu untuk disembelih atau sebagai tunggangan? Si pembeli menjawab, Unta ini untuk dijadikan kendaraan. Wasilah lalu memberi tahu, unta tersebut tidak akan tahan lama berjalan sebab kakinya berlobang karena cacat. Si pembeli itu pun bergegas kembali ke tengah-tengah pasar menemui si penjual unta dan menggugatnya.

Si penjual merasa jengkel pada Wasilah, ia berkata, Semoga Allah SWT mengasihimu, jual-beliku telah engkau rusak. Mendengar teguran tersebut Wasilah menjawab, Kami sudah berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk berlaku jujur kepada setiap Muslim, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda: Tidak halal bagi siapa pun yang menjual barangnya kecuali dengan menjelaskan cacatnya, dan tiada halal bagi yang mengetahui itu kecuali menjelaskannya. (HR Muslim, Hakim, dan Baihaki).

Kisah ini memberikan beberapa pelajaran kepada kita. Pertama, taat dan hormat kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika para sahabat Nabi mendengar sabda beliau yang dibacakan oleh sahabat yang lain, mereka langsung tunduk, patuh dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nabi SAW. Kedua, sebagai Muslim yang baik, kita harus saling menasihati sesama saudara seiman karena terkadang seseorang lalai atau berada pada level keimanan yang sangat rendah sehingga membuatnya tergelincir dari jalan yang benar.

Nabi SAW pernah bersabda, Nasihat merupakan barang yang hilang dari seorang mukmin. Sehingga harus dicari. Ketiga, sebagai pihak yang memberi nasihat kita harus berani menyuarakan kebenaran, hatta kepada orang-orang dekat, teman, saudara atau famili, bahkan terhadap keluarga kita. Namun, sebagai pemberi nasihat kita juga harus memper hatikan waktu dan tempat, kapan dan di mana nasihat itu harus diutarakan.

Keempat, kita harus jujur terhadap siapa pun, lebih-lebih ketika sedang jual-beli, hendaklah kita jujur dengan kondisi barang-barang yang kita miliki, menjelaskan keistimewaan barang-barang tersebut, dan juga menjelaskan kekurangannya jika ada. Di sinilah jujur memerlukan keberanian karena bisa merugikan perniagaan kita. Oleh sebab itu, orang yang berdagang dan berani jujur akan mendapat keberkahan dari Allah SWT. n

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement