Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Cerita Pertemuan Syekh Ahmad Surkati dan Soekarno

Senin 23 Sep 2019 05:00 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Teguh Firmansyah

Mantan presiden Soekarno

Mantan presiden Soekarno

Foto: Life
Soekarno sempat menyesal karena baru bertemu Syekh Surkati saat beliau sudah sepuh.

REPUBLIKA.CO.ID, AKARTA -- Syekh Ahmad Surkati seorang ulama besar kelahiran Sudan merupakan salah satu Mufti Makkah di Arab Saudi. Syekh Surkati rela melepas jabatan Mufti demi berdakwah di tanah Jawa meski telah mengetahui akan mendapat ancaman dari Pemerintahan Hindia Belanda. 

Baca Juga

Pada 1911 ulama yang hafiz Alquran itu tiba di Batavia dan memulai gerakannya di bidang pendidikan hingga mendirikan banyak sekolah dan ormas Al-Irsyad Al-Islamiyah. Di masa tuanya, Syekh Surkati bertemu dengan Soekarno yang akrab disapa Bung Karno sebelum menjadi Presiden Republik Indonesia.

Ketua Pusat Dokumentasi dan Kajian Al-Irsyad Al-Islamiyah, Abdullah Abubakar Batarfie menceritakan pertemuan Syekh Surkati dan Bung Karno pada 1941. Dia menggambarkan perbincangan singkat antara ulama pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyah dan bapak proklamator. 

Pada pertemuan pertama, Bung Karno menyesal karena baru bisa bertemu Syekh Surkati yang sudah sepuh. Tapi ulama kelahiran 1875 tetap bersyukur dan bahagia melihat perjuangan Bung Karno dan teman-temannya untuk memerdekakan Indonesia.

"Sungguh aku (Soekarno) amat menyesali bisa mengunjungi dan bertemu dengan Anda (Syekh Surkati) di saat penglihatan As-syekh Surkati sudah tiada," kata Abdullah meniru perkataan Bung Karno kepada Syekh Surkati dalam pertemuan pertama mereka.

Sebelumnya, Syekh Surkati mengalami sakit mata. Setelah diperiksa oleh Dokter dari Belanda, salah satu matanya direkomendasikan untuk dicungkil atau dicabut supaya sembuh dari sakit. Namun setelah matanya dicabut belum juga sembuh.

Hingga pada akhirnya Dokter Belanda menyarankan untuk mencabut lagi satu mata Syekh Surkati yang tersisa. Setelah itu Syekh Surkati tidak bisa melihat sepenuhnya. Abdullah meyakini Syekh Surkati telah dibutakan Dokter Belanda atas perintah Pemerintah Kolonial. 

Saat Syekh Surkati bertemu Bung Karno dalam keadaan sudah buta, dia tetap bersyukur. Karena menilai Bung Karno dan teman-teman seperjuangannya telah mengetahui hakikat Islam dan mau memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

"Alhamdulillah, karena di saat penglihatan saya (Syekh Surkati) sudah tiada, tapi pandangan kalian sudah terbuka sehingga kalian tahu akan hakikat Islam," ujar Syekh Sukarti, seperti yang disampaikan Abdullah. 

Lantas Bung Karno menyampaikan bahwa ia dan teman-teman seperjuangannya memang telah menyadari hakikat Islam dan mau memperjuangkan kemerdekaan. Bung Karno mengatakan bahwa itu semua berkat jasa dan upaya Abal Ruuh al Djalil julukan Bung Karno untuk Syekh Surkati. 

Abdullah menceritakan, setelah pertemuan pertama itu selanjutnya Bung Karno kerap mengunjungi Syekh Surkati. Diketahui pertemuan Bung Karno dengan Syekh Surkati terjadi pada 1941 dan ditemani oleh A Hassan dan Bung Hatta. Saat itu Bung Karno baru pulang dari pengasingan di Bengkulu. 

Abdullah menceritakan, Syekh Surkati tutup usia pada Kamis, 6 September 1943 tepatnya jam 10.00 WIB. Jenazahnya diantar ke pemakaman dengan cara yang sederhana. Para pelayat yang hadir di antaranya Bung Karno yang ikut mengantarkan jenazah dengan berjalan kaki.

"Dalam pesannya Bung Karno menyatakan bahwa almarhum Syekh Surkati telah ikut mempercepat lahirnya gerakan kemerdekaan Bangsa Indonesia," kata Abdullah.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA