Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Menyikapi Kesedihan

Ahad 15 Sep 2019 16:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca
Sedih dan bahagia dipergilirkan.

REPUBLIKA.CO.ID, OLEH: Agus Sopian

Roda kehidupan terus berputar. Sedih dan bahagia dipergilirkan. Bisa jadi hari ini bahagia, esok hadir duka. Begitu pun sebaliknya. Sekarang berduka, esok hari bisa jadi bahagia. Sesungguhnya Allah tidak menghadirkan kebahagiaan dan kesedihan, melainkan sebagai ujian bagi manusia.

Setiap orang pasti pernah mengalami kesedihan pada saat tertentu dalam kehidupannya. Ada yang disebabkan kehilangan, kematian, kemalangan, cacian, makian, dan sebagainya. Tidak seperti kebahagiaan, kesedihan tak pernah diharapkan bahkan diminta kedatangannya.

Meski begitu, tidaklah tercela bila seseorang merasa sedih. Itu adalah fitrah, bagian dari kehidupan. Tak ada salahnya bila memang sewajarnya. Bahkan, Rasulullah SAW pun bersedih saat ditinggal oleh orang-orang yang mencintai dan dicintai beliau. Namun, Rasulullah tidak berlebihan dalam bersedih. Rasulullah SAW segera bangkit dan kembali berjuang tanpa memanjangkan kesedihan.

Kesedihan bisa menjadi tercela saat seseorang larut dalam sedihnya. Hingga membuat hatinya lemah, tekadnya meredup, rasa optimisnya menghilang, dan menghancurkan harapan. Apa lagi, sampai membuatnya tidak mau bergerak, tidak ada ikh tiar untuk mengubah keadaannya menjadi insan yang bahagia.

Ibrahim bin Adham, membagi kesedihan menjadi dua macam. Pertama, kesedihan yang mendatangkan kebaikan, yaitu sedih karena urusan akhirat dan segala kebaikannya. Seperti bersedih dan menyesal karena telah berbuat dosa, ghibah, iri dengki.

Atau seorang yang bersedih karena tertinggal shalat berjamaah di masjid, menyia-nyiakan waktu, tertidur di sepertiga malam sehingga ia lupa tahajud, adalah contoh kesedihan yang mendatangkan kebaikan. Rasa sedih itu akan semakin mendekatkan dirinya pada Allah. Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman. (HR Timidzi).

Kedua, kesedihan yang mendatangkan keburukan, yaitu sedih karena urusan dunia dan segala kemewahannya. Ketika kehilangan harta kekayaan lalu kita sedih akan hal itu, sampaisampai lalai dan lupa pada Allah SWT. Itulah kesedihan yang mendatangkan keburukan.

Hanya keimanan yang membuat seseorang mampu menyikapi kesedihan dengan bijaksana. Ia akan melewatinya dengan penuh kesabaran. Tunduk bersimpuh di hadapan Allah. Mengadu dan berharap hanya kepada-Nya. Ia meyakini sepenuhnya bahwa Allah-lah yang menghadirkan kebahagiaan dan kesedihan. Sambil terus berusaha keluar dari kesedihan. Firman-Nya, Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis. (QS an-Najm:43).

Jangan sampai, kesedihan menjadikan kita lemah untuk meraih ridha Allah, apalagi membawa pada keputusasaan hingga membenci takdir-Nya. Tak perlu lama-lama memendam kesedihan dalam hati. Berusahalah selalu mengingat Allah. Sa dari bahwa Allah selalu bersama kita.

Sabar dan selalu berdoa meminta pertolongan-Nya adalah cara terbaik meng obati kesedihan yang menimpa kita. Rasulullah SAW pun berdoa dan berlindung dari rasa sedih, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana dan rasa sedih. (HR Bukhari Muslim).

Sesungguhnya, Allah melarang hamba-Nya larut dalam kesedihan. Firman-Nya, Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran:139). Wallahu a'lam . n 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA