Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Wednesday, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Lebaran Yatim dan Ibadah Sosial

Selasa 10 Sep 2019 05:50 WIB

Red: Irwan Kelana

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah bersama ribuan anak yatim saat kegiatan Lebaran Anak Yatim di Tennis Indoor Setda Pemkab Serang, Kamis (20/9).

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah bersama ribuan anak yatim saat kegiatan Lebaran Anak Yatim di Tennis Indoor Setda Pemkab Serang, Kamis (20/9).

Foto: dok. Humas Pemkab Serang
Ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Oleh Hasan Yazid Al-Palimbangy 

Sebagian umat Islam menjadikan 10 Muharram sebagai Idul Yatama (lebaran anak yatim). Momentum untuk membahagiakan anak yatim. Namun bukan berarti santunan anak yatim hanya pada hari tersebut. Dalam kitab Faidul Qadir disebutkan, menjamu anak yatim dan keluarga pada tanggal tersebut merupakan sunnah Nabi dan tergolong ibadah sosial yang luar biasa keutamaannya.

Ada dua kategori ibadah. Pertama, qoshirah (ibadah individual)  yang manfaatnya hanya bagi pelakunya dan pahalanya berakhir dengan berhentinya pelaku dari melaksanakan ibadah .Seperti shalat, puasa, haji, umrah, zikir  dan lain-lain.

Kedua, muta'addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya bagi pelaku dan orang lain.Selama orang lain merasakan manfaat, pahalanya terus mengalir walaupun pelaku sudah tidak  melaksanakannya. Contohnya,  sedekah, menyantuni dan membantu yatim dan janda yang tergolong fuqara'.

Kaedah fiqih menyebutkan "al-Muta'addiyah afdhal min al-Qashirah" (ibadah sosial  lebih utama daripada ibadah individual).

Ada beberapa indikator keutamaan muta'addiyah dibanding qoshiroh. Pertama, merujuk pada Alquran, hadis dan pendapat ulama bahwa dimensi ibadah sosial lebih luas daripada ibadah individual.

Ayat tentang muttaquun (orang-orang yang bertakwa) semuanya orang-orang yang menonjol aspek sosialnya. "Orang yang berinfak,  baik di waktu lapang maupun sempit, orang yang menahan amarah dan memaafkan orang lain." (QS.3: 134)

Orang bertakwa pada ayat di atas ada empat, semuanya bersifat sosial, hanya satu yang bersifat ritual.

Kedua, surga bagi penyantun anak yatim lebih berkualitas daripada surga bagi haji mabrur. “Dari umrah ke umrah penghapus dosa dan haji mabrur pahalanya surga.” (HR.Bukhari, Muslim ). "Aku dan penanggung anak yatim di surga seperti ini.Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahNya dan merenggangkan antara keduanya.” (HR Bukhari)

Hadis pertama tidak menyebutkan tingkatan surganya.Sedangkan hadis kedua menjelaskan bahwa surga bagi penyantun anak yatim paling berkualitas yaitu surganya Rasulullah SAW. Sayang, mayoritas umat Islam berlomba-lomba  haji dan umrah berkali-kali dibanding menyantuni anak yatim.

Ketiga, bila tidak mampu ibadah individual, kifaratnya ibadah sosial. Tidak mampu puasa,  dan berhubungan suam istri siang hari Ramadhan, tebusannya memberi makan orang miskin.

Keempat, ibadah individual tidak   bermakna bila melanggar norma   sosial. “Tidak beriman orang kenyang, sementara tetangganya kelaparan. Tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahim.”  Orang shalat akan celaka, bila  menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, riya dan enggan membantu (QS Al-Maa’uun).

Kelima, pahala ibadah sosial lebih besar daripada ibadah sunah.  “Orang-orang yang menyantuni janda dan orang-orang miskin,  seperti pejuang di jalan Allah, dan seperti orang yang terus-menerus shalat malam dan puasa.” (HR. Bukhari dan  Muslim). 

Pada momentum lebaran yatim ini,  mari fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) dengan cara membahagiakan anak yatim serta membantu meringankan beban saudara kita kaum dhuafa.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA