Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Ragam Tradisi Khas Muslim Indonesia Maknai Muharram

Senin 09 Sep 2019 16:39 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Warga berebut gunungan hasil bumi dalam prosesi Tradisi Grebeg Suro Girikusumo di Desa Banyumeneng, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Kamis (21/9).

Warga berebut gunungan hasil bumi dalam prosesi Tradisi Grebeg Suro Girikusumo di Desa Banyumeneng, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Kamis (21/9).

Foto: Antara/Aji Styawan
Tradisi Muharram diilhami dari tradisi dan kearifan lokal.

REPUBLIKA.CO.ID, Beragam cara dilakukan umat Islam Tanah Air untuk menyambut datangnya tahun baru Hijriyah. Tradisi-tradisi unik dilakukan lahir dari adat masyarakat setempat. Dalam proses waktu, tradisi itu lahir dari proses asimilasi panjang yang terjadi di Indonesia.

Seperti umat Islam di Bengkulu misalnya, mereka memiliki tradisi yang dikenal sebagai tradisi Tabot. Tradisi ini merupakan suatu upacara tradisional yang diselenggarakan mulai 1 Muharam sampai 10 Muharram. Pada awalnya, upacara ini digelar untuk mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali Abu Thalib dalam perang.  

Namun, acara tersebut kini mulai bergeser dengan tujuan untuk menyambut pergantian tahun Islam. Masyarakat kota Bengkulu percaya apabila perayaan ini tidak mereka selenggarakan, akan terjadi musibah atau bencana. 

Baca Juga

Tidak hanya di Bengkulu, di tanah Jawa juga terdapat banyak tradisi dalam menyambut Tahun Baru Islam. Dalam buku Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa,  Muhammad Sholikhin, menjelaskan dalam kepercayaan orang jawa tahun baru Hijriyah yang jatuh pada malam 1 Muharram atau sering disebut dengan malam 1 Sura memiliki makna spiritual sebagai perwujudan perubahan waktu yang diyakini akan berdampak pada kehidupan manusia.  

Seperti halnya tradisi Lampah Mubeng di Yogyakarta. Ritual yang dikenal juga dengan Mubeng Benteng ini merupakan simbol refeksi dan instropeksi diri orang Jawa pada malam 1 Suro. Ritual mubeng benteng ini dilaksanakan dengan cara berkeliling kawasan kompleks keraton pada malam hari sebagai wujud dari bentuk perenungan untuk selalu melakukan instropeksi diri.  

Selama mengelilingi benteng dalam ritual ini, semua peserta harus melakukan tapa bisu, tidak berbicara ataupun bersuara, serta tidak makan, minum, dan merokok. Tradisi ini terbuka untuk masyarakat umum yang ingin mengikutinya  

photo
Sejumlah peserta mengikuti pawai obor elektrik pada Jakarta Muharram Festival di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (31/8).
Selain itu, juga ada tradisi unik yang dikenal sebagai Kirab Pusaka dan Kebo Bule di Surakarta, Jawa Tengah. Pada malam 1 Muharam atau 1 Suro, pihak Keraton Surakarta dan warga biasanya menggelar tradisi kirab pusaka yang tidak hanya diiringi para abdi dalem tetapi juga oleh enam ekor kerbau istimewa yang berwarna putih. Dalam tradisi ini beberapa kerbau berwarna putih diarak keliling kota.  

Kerbau-kerbau tersebut dipercaya sebagai turunan Kebo Bule Kiai Slamet dan dianggap keramat. Dalam tradisi ini, Kebo Bule berperan sebagai Cucuking Lampah (pemandu kirab) dan diikuti oleh para kerabat keraton yang membawa pusaka. Baru kemudian di barisan belakang ada masyarakat Solo dan sekitarnya.  

Kirab ini biasa digelar pada tengah malam, biasanya masyarakat sudah berkumpul di tepi jalan yang dilewati rombongan kirab. Yang unik dari tradisi ini, para warga menanti momen di mana mereka dapat menyentuh badan kebo bule dan berebut untuk mendapatkan kotorannya yang katanya dapat membawa berkah tersendiri. 

Sementara itu, di Jawa Barat terdapat tradisi bubur Suro dalam merayakan tahun baru Hijriyah. Tradisi ini dilakukan masyarakat Jawa Barat dalam rangka menyambut Muharram. Tradisi ini juga dilakukan sebagai bentuk peringatan atas wafatnya cucu Nabi Muhammad di medan peperangan.  

Pada pagi hari pada 10 Muharram, seluruh rumah penduduk menyiapkan bubur merah dan bubur putih yang disajikan secara terpisah yang dikenal sebagai bubur Suro. Bubur ini nantinya akan dibawa ke masjid terdekat dengan beberapa makanan lainnya.  

Di Jawa Timur, masyarakat Magetan juga menggelar tradisi Ledug Suro dengan ngalub berkah bolu rahayu. Tradisi ini dipercaya dapat membawa rezeki. Sama seperti tradisi 1 Suro lainnya, Ledug Suro sangat dinanti-nati warga. Upacara ini diawali dengan kirab Nayoko Projo dan Bolu Rahayu yang nantinya menjadi sasaran rebutan warga. Pasalnya, bolu rahayu tersebut dipercaya mendatangkan berkah.  

Peringatan tahun baru Hijriyah yang dilakukan di sejumlah daerah tersebut memang tidak memiliki ketentuan yang tertulis dalam Alquran ataupun hadis. 

Namun, sah-sah saja bagi siapa saja yang ingin ikut meramaikannya asalkan tidak meyakininya, sehingga tidak menjadikan untuk mengikuti ritual budaya tersebut.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA