Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Jejak Pemikiran Ibnu Khaldun dan Kekaguman Mark Zuckerberg

Senin 09 Sep 2019 20:42 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim.

Ilmuwan Muslim.

Foto: Metaexistence.org
Mark Zuckerberg memasukan karya Ibnu Khaldun dalam daftar bacaan wajib.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muqaddimah Ibnu Khaldun merupakan kitab klasik yang paling populer dalam peradaban manusia hingga berabadabad lamanya. Kitab ini sangat istimewa, sehingga pendiri Facebook, Mark Zuckerberg memasukkannya dalam daftar wajib bacaan manusia era digital. Dia menjadikan bagian pendahuluan Kitab al-Ibar ini sebagai bacaan bersama dalam komunitas A Years of Books yang digagasnya.

Ibnu Khaldun (1332-1406) merupakan filsuf dan sejawaran Muslim yang hidup pada abad ke-14. Dia lahir di Tunisia dan wafat di Mesir. Sejak kecil, dia sudah hafal Alquran dan mampu menjadi seorang ulama, hakim, ahli fikih, ahli hukum, diplomat, politisi, dosen, sosiolog, sejarawan, hingga seniman dan penyair.

Mark Zuckerbeg tertarik membaca kitab ini karena fokus membahas alur kemunculan masyarakat dan kebudayaan. Termasuk, munculnya kota, politik, perdagangan, dan ilmu pengetahuan. Karena itu, menurut Zuckerberg, karya Ibnu Khaldun ini layak dibaca agar manusia di era digital mengetahui tentang dunia yang dipahami saat itu.

Kutipan Zuckerberg ini tertulis dalam pengantar terjemahan Muqaddimah yang diterbitkan oleh Penerbit Wali Pustaka yang fokus menerbitkan terjemahan kitab re ferensi dari bahasa Arab ke Indonesia. Penerjemahnya adalah Ahmadie Thaha. Semula, karya terjemahan ini sudah terbit pada era 90-an. Kini, diterbitkan lagi kare na melihat pentingnya kitab ini untuk dibaca dan dipahami masyarakat masa kini.

Buku ini mulai diterjemahkan oleh Ahamdie Thaha sejak dirinya lulus kelas VI Tarbiyatul Muallimin al-Islamiyah (TMI) Pondok Pesantren al-Amien Prenduen, Sumenep, Madura, Jawa Timur, pada 1980. Saat itu, usianya masih 21 tahun.

Dalam menerjemahkan karya monumental Ibnu Khaldun ini, Ahmadie mengaku, harus menelaah banyak referensi. Karena itu, tak heran jika proses penerjemahannya menghabiskan waktu empat tahun sejak 1981 hingga 1985.

Dengan karya terjemahan ini, Ahmadie mampu menghadirkan terjemahan Muqaddimah Ibnu Khaldun versi terlengkap dan orisinal. Apalagi, terjemahan kitab Muqaddimah ini menyajikan tulisan yang mudah dibaca, sehingga para pembaca bisa menyerap isinya dengan baik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA