Senin 02 Sep 2019 09:19 WIB

Spirit Hijrah adalah Membangun Persatuan

persatuan merupakan cikal bakal Indonesia maju.

Rep: Muhyiddin/ Red: Agung Sasongko
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis
Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Tahun Baru Hijriyah 1441 Hijriyah yang bertepatan pada 1 September 2019 merupakan momentum bersejarah bagi umat Islam. Karena, Tahun Baru Hijriyah ditetapkan berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah pada Juni 622 Masehi.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis mengatakan, Tahun Baru Hijriyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki makna persatuan antar seluruh elemen masyarakat.  

Baca Juga

“Makna Tahun Baru Hijriyah adalah kohesivitas, persatuan dan perekatan antar unsur dan elemen masyarakat, di mana pada saat Rasulullah Saw hijrah bersama kaum muhajirin beliau diterima oleh kaum anshor tanpa syarat, tanpa pamrih apapaun,” ujar Kiai Cholil saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (1/9).

Bahkan, menurut dia, kaum anshor rela memberikan semua yang diinginkan Rasulullah demi memenuhi kebutuhan kaum muhajirin. Karena itu, menurut dia, jika umat Islam Indonesia memiliki spirit hijrah itu maka Indonesia akan tetap utuh.

“Kalau umat Islam Indonesia bisa punya rasa kohesivitas spirit hijrah, maka Indonesia akan utuh, NKRI akan terus berlanjut dan kuat,” ucap Pengasuh Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok ini.  

Dia menuturkan, untuk membangun sumber daya manusia tentu tidak mungkin dilakukan tanpa adanya persatuan. Karena, menurut dia, persatuan merupakan cikal bakal Indonesia maju. “Karena itu spirit hijrah adalah spirit membangun kohesifitas, persatuan kita, dan semangat berkorban,” katanya.

Di samping itu, tambah dia, saat hijrah dari Makkah ke Madinah, Nabi Muhammad Saw juga menggunakan cara-cara yang santun dalam mendakwahkan Islam, sehingga kehadiran Rasulullah bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Madinah.

 

“Demikian juga Indonesia menerima Islam itu seperti halnya di negeri Madinah, yaitu menerima dengan lapanga dada, tanpa pertumpahan darah, serta cinta terhadap Islam dan tanah air,” jelas Kiai Cholil.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement