Sabtu 17 Aug 2019 09:30 WIB

Detik-Detik Ibadah

Hendaknya tiada detik yang terlewatkan tanpa bermakna ibadah.

Rep: Hikmah Republika/ Red: Agung Sasongko
Umat Islam saat beribadah di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta (ilustrasi)
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Umat Islam saat beribadah di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hendaknya tiada detik yang terlewatkan tanpa bermakna ibadah. Seorang Mukmin akan bahagia manakala dapat beribadah kepada Allah SWT dengan benar. Mengkaji nilai-nilai Alquran, mendirikan shalat berjamaah, dan mengeluarkan harta di jalan Allah SWT menjadi hiasan amalnya.

Hidup bukan sekadar hidup, tak sekadar makan, minum, bekerja, dan berkeluarga. Hidup sesungguhnya adalah detik-detik ibadah, penghambaan diri kepada Allah SWT dalam rambu-rambu-Nya demi meraih keridhaan Illahi. 

Dengan ketekunan beribadah seperti itu, maka hati orang-orang beriman begitu sensitif. Bila disebut nama Allah SWT bergetar hatinya, dan bila dibacakan asma Allah SWT, bertambah keimanannya. Ia mudah menangis ketika mengingat dosa-dosanya, takut akan azab-Nya, bangun bertahajud di keheningan malam, karena ingin menjadi kekasih-Nya. 

‘’Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenarbenarnya. Mereka akan memperoleh bebe rapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.’‘ (QS Al- Anfal [8]: 2-4). 

Getar resonansi hati seorang Mukmin selalu memantulkan gema kebaikan dalam tu tur kata maupun perbuatan. Imannya penuh kehalusan, meski atas suatu sinyal kecil sekalipun.

Menjadikan imannya selalu bertambah tatkala uraian taklim disampaikan. Sedemikian kerasnya sinyal Ilahi itu merasuk ke dalam jiwa seorang Mukmin, sehingga hati menjadi gembira, penuh cinta dan semangat hidup. Pun bila seorang Mukmin disodorkan Alquran, jiwanya pasti terpanggil menata kehidupan dengannya. 

Bukan itu saja, refleksi dari semua itu adalah munculnya kesungguhan, kekhusyukan, dan keseriusan beribadah dan beramal saleh. Itu karena jiwanya sudah tertanam betapa Allah SWT begitu dekat, sedemikian dekat, sehingga terasa dalam kebersamaan sekaligus mengawasi setiap amaliyah sehari-hari.

‘’Sesungguhnya beruntunglah orangorang yang beriman. (Yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya. Menjauhkan diridari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna dan menunaikan zakat. Mereka itulah yang akan mewarisi surga firdaus dan mereka kekal di dalamnya.’‘ (QS Almukminun [23]: 1-12). 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement