Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Garebeg Besar Yogyakarta: Potret Perkawinan Islam dan Budaya

Selasa 13 Aug 2019 06:00 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Nashih Nashrullah

Warga berebut Gunungan berisi hasil bumi yang dibagikan  dalam acara Garebeg Besar Keraton Yogyakarta atau yang disebut Hajad Dalem  Garebeg Besar, Senin (12/8).

Warga berebut Gunungan berisi hasil bumi yang dibagikan dalam acara Garebeg Besar Keraton Yogyakarta atau yang disebut Hajad Dalem Garebeg Besar, Senin (12/8).

Foto: Republika/Silvy Dian Setiawan
Garebeg Besar rutin digelar Keraton Yogyakarta tiap Idul Adha.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Garebeg Besar Keraton Yogyakarta atau Hajad Dalem Garebeg Besar merupakan kedermawanan Sultan kepada rakyatnya. Warga pun menganggap Garebeg Besar tersebut sebagai berkah.

Baca Juga

Salah satunya warga Bantul, Inem (50) yang mendapat rebutan gunungan berisikan hasil bumi. Menurutnya, hasil bumi yang dibagikan dalam bentuk gunungan ini merupakan berkah di Idul Adha 1440 H.

"Membawa berkah, isinya (gunungan) ada kacang panjang yang itu artinya biar kita itu rezekinya panjang (melimpah) dan umurnya juga panjang," kata Inem usai pembagian gunungan di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Senin (12/8).

Garebeg Besar ini sendiri merupakan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun. Ia sendiri rutin mengikuti acara tersebut, termasuk tahun lalu. "Tahun lalu juga datang, tapi tidak dapat (pembagian gunungan)," ujarnya.

Sementara, wisatawan asing yang berasal dari Kolombia, Viona juga kagum dengan digelarnya tradisi tersebut. Dia pun mengaku baru petama kali melihat Garebeg Besar itu. “Budayanya bagus, sangat unik. Belum pernah saya melihat tradisi seperti ini di negara saya," ujarnya.

Tidak kalah dari warga lainnya, dia pun ikut berebut dan mengambil gunungan yang disebarkan kepada warga. Karena dia pun ingin mendapat keberkahan dari gunungan itu. "Gunungan ini bentuk pemberian Sultan kepada masyarakat," ujar Viona.

Pengageng Kawanan Pengulon, KRT Akhmad Mukhsin Kamaludin Ningrat, mengatakan, saat digelarnya garebeg atau grebeg, Sultan memberikan sedekah berupa hasil bumi. Hasil bumi tersebut disusun membentuk kerucut seperti gunung sehingga disebut gunungan.

Sedekah Sultan itu memang dianggap berkah bagi masyarakat. Dan tentunya memiliki nilai lebih dan memberikan keberkahan kepada rakyat. "Manfaatnya lebih besar Insya Allah. Harapan kita seperti itu," katanya. 

photo
Gerebeg Besar Keraton, (ilustrasi)

Mantan Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD juga turut membagikan gunungan hasil bumi dalam acara tersebut. Mahfud yang juga sebagai Penasehat Gunernur DIY tersebut mengatakan, Garebeg Besar ini merupakan upacara keagamaan. Yang mana, upacara tersebut berbasis Islam yang dikombinasikan dengan budaya lokal. "Itu menunjukkan Islam itu bisa berakulturasi dengan kebutuhan-kebutuhan lokal," kata Mahfud di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin (12/8). 

Dia mengatakan, Islam di Yogyakarta berkembang dengan baik. Penduduk Yogyakarta, lanjutnya, mampu menjalankan syariat Islam dengan budaya lokal Yogyakarta. "Islam tumbuh di sini dengan baik. Itu indahnya Islam Rahmatan Lil 'Alamin dan indahnya Bhinneka Tunggal Ika," kata Mahfud.

Garebeg Besar Keraton Yogyakarta ini merupakan upacara dalam rangka memperingati Idul Adha 1440 H. Dalam acara tersebut, ada tujuh gunungan hasil bumi yang disebar di tiga titik di Yogyakarta. 

Gunungan disebar di antaranya, lima Gunungan yakni Kalung, Estri, Darat, Gepak dan Gunungan Pawuhan disebar di Masjid Gedhe Kauman. Sementara dua Gunungan Kakung dibagikan di Kepatihan dan Puro Pakualaman.

  

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA