Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Garebeg Besar Keraton Yogyakarta, 7 Gunungan Wujud Syukur

Senin 12 Agu 2019 16:52 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Nashih Nashrullah

Warga berebut Gunungan berisi hasil bumi yang dibagikan  dalam acara Garebeg Besar Keraton Yogyakarta atau yang disebut Hajad Dalem  Garebeg Besar, Senin (12/8).

Warga berebut Gunungan berisi hasil bumi yang dibagikan dalam acara Garebeg Besar Keraton Yogyakarta atau yang disebut Hajad Dalem Garebeg Besar, Senin (12/8).

Foto: Republika/Silvy Dian Setiawan
Garebeg Besar merupakan tradisi Keraton berusia ratusan tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Garebeg Besar Keraton Yogyakarta atau yang disebut Hajad Dalem Garebeg besar digelar, Senin (12/8). Dalam acara tersebut, ada tujuh gunungan hasil bumi yang disebar di tiga titik di Yogyakarta.

Baca Juga

Gunungan tersebut disebar di Masjid Gedhe Kauman, Kepatihan, dan Puri Pakualaman. Acara ini digelar dalam rangka memperingati Idul Adha 1440 H.  

nungan disebar diantaranya, lima gunungan yakni Kalung, Estri, Darat, Gepak, dan Gunungan Pawuhan disebar di Masjid Gedhe Kauman. Sementara dua Gunungan Kakung dibagikan di Kepatihan dan Puro Pakualaman.

Pengageng Kawedanan Pengulon, KRT Akhmad Mukhsin Kamaludin Ningrat mengatakan, tujuh gulungan tersebut sebagai bentuk kedermawanan Sultan kepada rakyatnya. Gunungan sendiri berisi hasil bumi yang disumbangkan kepada rakyat.

"Itu sebetulnya sedekah Sultan yamg diberikan dalam bentuk gunungan hasil pertanian," kata Mukhsin di kawasan Masjid Gedhe Kauman, Senin (12/8).

Ketujuh gunungan tersebut dibawa abdi dalem Keraton Yogyakarta dan diiringi oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan kata garebeg sendiri yang berarti diiringi atau diantar oleh orang banyak. 

Tidak hanya memperingati Idul Adha, Hajad Dalem Gerebeg ini digelar tiga kali dalam setahun. Yaitu, Garebeg Maulud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Garebeg Sawal yang menandai berakhirnya bulan puasa dan Garebeg Besar. "Ini sudah berlangaung ratusan tahun," tambahnya.

 

  

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA