Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 Februari 2020

Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 Februari 2020

Mengenal Ahmad al-Mansur, Penguasa Dinasti Saadi Maroko

Rabu 24 Jul 2019 12:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Sisa-Sisa bangunan Istana El Badi, Marrakech, Maroko.

Sisa-Sisa bangunan Istana El Badi, Marrakech, Maroko.

Foto: tripexpert.com
Ahmad al-Mansur membawa Maroko ke puncak kejayaannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahmad al-Mansur merupakan penguasa Dinasti Saadi yang paling terkenal dan memiliki pengaruh luas. Tidak hanya di kawasan Afrika, pamornya juga dikenal hingga wilayah Eropa. Sultan Ahmad al-Mansur dilahirkan di Kota Fez pada 1549 dan wafat pada 25 Agustus 1603 di pinggir Kota Fez. Ia merupakan putra ketiga dari Mohammad asy-Syekh, seorang Sultan Maroko.

Baca Juga

Al-Mansur diangkat menjadi penguasa Maroko keenam dari Dinasti Saadi pada 1578. Ia menggantikan saudara kandungnya, Sultan Abu Marwan Abd al-Malik Saadi, yang wafat dalam sebuah pertempuran melawan pasukan Portugis di Ksar el Kebir. Al-Mansur berkuasa hingga wafatnya pada 1603.

Di bawah kepemimpinannya, Maroko muncul sebagai sebuah kekuatan baru dalam bidang militer di wilayah Afrika pada masa itu. Pasukannya berhasil memukul mundur tentara Portugis dari tanah Maroko. Karenanya, tak mengherankan jika banyak penguasa di kawasan Eropa saat itu yang ingin menjalin aliansi militer dengan Maroko. Salah satunya adalah penguasa Kerajaan Inggris Raya.

Mengutip dari laman Wikipedia, pada tahun 1600 Sultan al-Mansur mengirim Sekretaris Kerajaan, Abd el-Quahed ben Messaoud, sebagai duta besar untuk Kerajaan Inggris Raya. Salah satu tugas yang diemban Messaoud adalah melakukan negosiasi pembentukan aliansi melawan Spanyol. Sejak saat itu di antara kedua kerajaan ini terbentuk aliansi Anglo-Maroko.

Aliansi yang digalang Sultan al-Mansur dengan sejumlah penguasa Eropa tidak hanya sebatas pada bidang militer, tetapi juga dalam bidang ekonomi. Kondisi kas negara yang semakin menipis pada masa itu, mendorong Sultan al-Mansur melakukan aliansi ekonomi dengan negara-negara Kristen yang memang dikenal makmur.

Untuk mengatasi defisit anggaran ini, Maroko juga berupaya mengambil alih kontrol terhadap jalur perdagangan emas di kawasan trans-Sahara. Dengan cara seperti ini, negara bisa kembali membiayai sektor militer, pembangunan istana dan gedung-gedung di daerah pinggiran, memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kerajaan, dan melakukan propaganda.

Di masa pemerintahan al-Mansur, Kesultanan Maroko berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga ke wilayah Afrika Timur, tepatnya ke daerah kekuasaan Kekaisaran Songhai. Dua kota penting di Songhai, Timbuktu dan Djenne, berhasil direbut oleh tentara al-Mansur. Begitu juga dengan Gao, ibu kota pemerintahan Kekaisaran Songhai. Namun, pada tahun 1620, ketiga kota ini berhasil direbut kembali dari tangan penguasa Dinasti Saadi.

Ahmad al-Mansur meninggal akibat wabah penyakit yang melanda wilayah Maroko pada tahun 1603. Sepeninggal beliau, wilayah kekuasaan Dinasti Saadi terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Di antaranya Zidan Abu Maali yang hanya berkuasa di Kota Marrakech dan Abou Fares Abdallah yang memerintah di Kota Fes. Dan, sejak saat itu pengaruh Maroko di kancah internasional secara perlahan mulai memudar.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA