Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Syekh Nurjati Pendiri Pondok Pesantren Pertama di Cirebon

Senin 22 Jul 2019 15:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Dakwah

Dakwah

Foto: wordpress.com
Lokasi pondok pesantrennya terletak di areal bukit Pesambangan, Kabupaten Cirebon.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru besar sosiologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Prof DR H Abdullah Ali, menjelaskan, Syekh Nurjati adalah pendiri pondok pesantren pertama di wilayah Cirebon. Lokasi pondok pesantrennya terletak di areal bukit Pesambangan (kini terletak di Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon), yang kala itu banyak ditumbuhi pohon jati. Di tempat itulah, Syekh Nurjati mengajarkan Islam kepada murid-muridnya.

Umumnya mereka berasal dari masyarakat setempat atau dari daerah lain yang sengaja datang untuk menuntut ilmu pada Syekh Nurjati. Dan salah seorang murid Syekh Nurjati adalah Sunan Gunung Jati.

Baca Juga

Abdullah Ali menambahkan di bukit Pesambangan itu terdapat banyak pohon jati. Di antara sela-sela pohon jati tersebut, cahaya matahari senantiasa menyinari pondok pesantren tempat Syekh Nurjati mengajarkan Islam. Karena itulah, Maulana Idhofi akhirnya digelari Syekh Nurjati (cahaya pohon jati).

Selain itu, di depan lokasi yang dijadikan pondok pesantren Syekh Nurjati, terdapat sebuah gua yang kini dikenal dengan nama Gua Gerbang Iman. Di gua itu, ulama ini biasa menghabiskan waktunya untuk bermunajat kepada Allah. Dan karena itu pula, Syekh Nurjati diberi julukan Syekh Dzatu Kahfi (penjaga gua). 

Dengan berbekal pengetahuan agama yang ditekuninya, Syekh Nurjati mengembangkan dakwah Islam ke Cirebon, yang kala itu masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Di pondok pesantrennya, Syekh Nurjati mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat. Kala itu, masyarakat setempat masih memeluk agama Hindu dan Buddha. Dan ada sebagian masyarakat yang sudah memeluk Islam, meski dalam jumlah yang sedikit.

Sebelum Syekh Nurjati datang ke Cirebon untuk mengembangkan dakwah Islam, sebelumnya sudah ada seorang ulama besar dari Baghdad yang mengajarkan Islam di daerah ini. Namanya Syekh Quro.

Konon, Syekh Quro merupakan saudara sepupu dari Syarifah Halimah, istri Syekh Nurjati. Dia bermukim dan mendirikan pondok pesantren di Karawang. Di pondok pesantren Syekh Quro itulah, istri Prabu Siliwangi yang juga nenek Sunan Gunung Jati, Subang Larang, belajar agama Islam.

Dari keterangan ini, jelaslah bahwa pada masa itu sekitar abad ke-13-14 M, di bumi Pasundan, Jawa Barat, sesungguhnya telah berdiri dua pondok pesantren besar dalam kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Keduanya adalah pondok pesantren yang dipimpin Syekh Quro di Pulo Klapa Telagasari, Kabupaten Karawang, dan pondok pesantren yang dipimpin Syekh Nurjati di Pesambangan, Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

Syekh Nurjati disebut sebagai mahaguru agama Islam bagi Raden Walangsungsang (pendiri Cirebon yang bergelar Pangeran Cakrabuana) dan Nyi Mas Rarasantang (ibunda Sunan Gunung Jati, yang kemudian dikenal dengan nama Syarifah Mudaim). Selain itu, Syekh Nurjati juga telah menjadi guru bagi Sunan Gunung Jati. Karena itu, Syekh Nurjati disebut pula sebagai mahaguru agama Islam di Cirebon, karena perannya yang demikian besar itu.

Sebagai seorang guru, Syekh Nurjati memerintahkan Pangeran Walangsungsang untuk membuka hutan di pinggir pantai sebelah tenggara Gunung Jati (Lemahwungkuk sekarang). Bersama ayah mertuanya, Ki Gedheng Tapa, Pangeran Walangsungsang pun mendirikan Dukuh Tegal Alang Alang yang kemudian diberi nama Desa Caruban (kini berkembang menjadi Cirebon). Setelah Ki Gedheng Tapa wafat, Pangeran Walangsungsang diangkat menjadi Mbah Kuwu Cerbon yang bergelar Pangeran Cakrabuana.

sumber : Islam Digest Republika/Lilis Sri Handayani.
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA