Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

'Sains Islam akan Kembali Jadi Rujukan Dunia'

Senin 22 Jul 2019 12:03 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Hasanul Rizqa

Direktur Pascasarjana Yildiz Technical University Turki, Prof Alparslan Acikgenc

Direktur Pascasarjana Yildiz Technical University Turki, Prof Alparslan Acikgenc

Foto: Republika/Muhyiddin
Prof Alparslan Acikgenc dari Turki memaparkan tentang situasi sains Islam kini

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ilmu pengetahuan memiliki makna yang sangat luas dalam tradisi Islam. Ia mencakup rasio dan juga dimensi metafisika yang ada dalam Alquran dan Sunah.

Kontribusi ilmuwan muslim dalam bidang sains sangatlah besar pada masa-masa kejayaan Islam. Hingga saat ini, sains Islam masih banyak dikaji di berbagai dunia, di forum-forum diskusi maupun di universitas-universitas.

Seperti apa masa depan sains Islam? Berikut wawancara lengkap wartawan Republika Muhyiddin bersama Direktur Pascasarjana Yildiz Technical University Turki, Prof Alparslan Acikgenc usai menjadi pembicara di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

Bagaimana Anda melihat masa depan Sains Islam?

Untuk melihat masa depan sains Islam kita harus melihat aktivitas sains Islam di dunia Muslim, apa yang sedang dilakukan umat Islam berkaitan dengan sains. Pertama, kata sains dalam bahasa Inggris saat ini dipakai berkaitan dengan kegiatan sains biasa, seperti kimia, fisika, biologi, dan kedokteran.

Tapi dalam tradisi Islam, saat kita menggunakan kata sains itu merupakan bahasa Arab yang artinya 'ilmu.' Penggunaannya untuk pengertian sains yang lebih luas. Berkaitan dengan segala macam jenis sains. Termasuk agama, sosial, manusia, dan fisika. Jadi itu luas, dan kita harus memahaminya dalam perspektif itu. Jangan hanya melihat dalam aspek fisika dan teknik. Kita harus merujuk kepada semua itu secara bersamaan.

Jadi saat memahami sains Islam, hal yang pertama kita harus lihat adalah kenyataan saat ini. Biasanya mereka yang belajar fisika dan teknik itu sering memahaminya dari perspektif peradaban Barat. Mereka tidak menghasilkan sesuatu yang baru. Mereka hanya meniru dari Barat dan mencoba menjelaskan dan bekerja dengan sains itu saja.

Sementara, dalam sains sosial dan kemanusiaan, mereka mencoba untuk menciptakan framework (kerangka) baru. Nah, ini yang sebenarnya lebih penting dibandingkan sains fisika dan teknik tadi. Jika bisa mencapai hal itu maka dunia ini akan bisa menyediakan kerangka keislaman yang pantas untuk segala macam keilmuan.

Saya yakin pada masa depan arahnya akan berubah secara perlahan. Misal, saya tidak hanya mendapat keuntungan dari Barat, tapi juga melihat apa yang mereka lakukan dalam dunia keilmuan. Selain itu, kita juga bisa menciptakan teori kita sendiri, penemuan dan teknologi kita sendiri. Dengan itu, sains Islam akan kembali menjadi rujukan dunia.

Artinya masa depan Islam itu punya harapan besar tapi semua bergantung pada kerja keras kita dan seberapa besar bisa mengembangkan falsafah kita sendiri. Kebutuhannya adalah untuk kerangka sains yang saya katakan tadi. Ini poin yang paling penting dari itu semua.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA