Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Saturday, 16 Zulhijjah 1440 / 17 August 2019

Jejak al-Maqamat di Timur dan Barat

Rabu 17 Jul 2019 21:21 WIB

Rep: Yusuf Asshidiq/ Red: Agung Sasongko

Ilmuwan Muslim.

Ilmuwan Muslim.

Foto: Metaexistence.org
Kitab tersebut ditulis ulang di beberapa kota besar Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Karya besar tak akan pudar. Itu pula yang berlaku pada al-Maqamat yang ditulis al-Hariri. Walau sudah berusia puluhan abad, literatur dan manuskirp dari karya tersebut tetap terjaga dan tidak lekang oleh zaman. Pengabadian karya tersebut sudah dilakukan sejak abad ke-13.

Kitab tersebut ditulis ulang di beberapa kota besar Islam, seperti Kairo, Baghdad, Damaskus, dan Basra. Banyak dari para bangsawan yang mendanai penulisan ulangnya serta mengoleksi karya besar tersebut. Bahkan, hasil pemikiran al-Hariri itu kian kaya nuansa ketika para seniman lukis menjadikannya sebagai inspirasi karya.

Baca Juga

Seorang seniman terkenal yang membuat ilustrasi dari al-Maqamat, yakni Yahya ibnu Mahmud ibnu Yahya ibnu Abi al-Hasan ibnu Kuwwarih al-Wasiti. Ilustrasi buatannya dipuji karena mampu menampilkan gambaran yang realistis. Banyak objek ilustrasi yang disajikan al-Wasiti.

Misalnya, masyarakat yang pergi ke masjid, suasana belajar di madrasah, persidangan, jamuan makan, dan transaksi jual beli di pasar. Hampir semua bidang kehidupan tercakup di dalamnya, kecuali aspek militer. Al-Maqamat mendapat tempat istimewa saat diperkenalkan di Andalusia, Spanyol.

Seorang penyair keturunan Yahudi, Yehuda al Harizi, lantas menerjemahkannya ke dalam bahasa Ibrani. Upaya itu berlangsung pada 1218 di utara Spanyol. Selanjutnya, seorang ilmuwan Spanyol bernama Joseph ibnu Zabara menulis karya Sefer Sha'ashu'in (The Book of Delight). Al-Maqamat menjadi model penulisan buku itu.

Baik karya asli al-Hariri maupun terjemahan bahasa dalam Ibraninya, terus menjadi acuan di bidang sastra di Eropa hingga abad ke-17. Langkah pengalihbahasaan dari karya al-Hariri itu pun terus berlangsung. Dalam bahasa Latin lantas diberi judul The Assemblies of al Hariri.

Sedangkan, orientalis asal Jerman, yakni Friedrich Ruckert, pada abad ke-19 menerjemahkan ke bahasa Jerman dengan titel Die Verwandlungen von Abu Serug. Penerjemahan juga ditempuh ilmuwan Inggris Thomas Chenery terhadap episode 1 hingga 26 dari al-Maqamat pada 1867.

Upaya ini diteruskan FW Steingass terhadap episode 27 sampai 50 yang kemudian diterbitkan di London pada 1898. Demikian pula Theodore Preston pada 1850 menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan memberinya judul Rhetorical Anecdote of al Hariri of Basra.

Penerjemahan serta alih bahasa terhadap al-Maqamat yang ditulis al-Hariri menunjukkan keunggulan dan kehebatan karya ini dalam khazanah sastra dunia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA