Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Mengenal Al-Sufi, Sang Astronom

Selasa 16 Jul 2019 19:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Ilmuwan Muslim Penyair

Ilustrasi Ilmuwan Muslim Penyair

Foto: Mgrol120
Al-Sufi mengkaji pemikiran Plotomeus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di atas tanah Arabia, tempat kelahiran Islam, ungkap Ehsan Mahsood, langit malam bak kotak perhiasan yang dipenuhi bintang bercahaya nan indah. Udara padang pasir memastikan ruang pandang yang bagus. Para kafilah dengan kendaraan dan bawaannya, menjadikannya sebagai penuntun selama perjalanan. 

Ehsan, sang ilmuwan, dalam bukunya Ilmuwan Muslim Pelopor Hebat di Bidang Sains Modern, melanjutkan kisahnya, pada masa pra-Nabi Muhammad SAW, bentang alam yang luar biasa indah itu seolah tak memiliki ciri khas. Namun, kedatangan Islam telah menempatkan ilmu perbintangan menduduki posisi terhormat.

Berawal dari kegiatan penerjemahan literatur India dan Yunani di sekitar abad ke-8 yang mengupas astronomi. Hal itu segera diikuti oleh aktivitas sains. Kajian dan penelitian terhadap segala hal yang ada di langit serta angkasa luas, berkembang pesat di pusat-pusat sains di dunia Islam.

Kegairahan ini didorong oleh kontribusi para ahli astronomi Muslim. Salah satu sosok pentingnya adalah Abd-al Rahman al-Sufi. Di dunia Barat, tokoh yang berasal dari Persia ini dikenal dengan nama Azophi. Ia dilahirkan di Ray pada 7 Desember 903 dan meninggal pada 25 Mei 986. 

Semasa kecil hingga dewasa, ia menetap di Kota Isfahan. Ketika itu, penguasanya adalah Emir Adud ad-Daula. Al-Sufi tercatat pernah menetap serta berkarya di Baghdad. Salah satu keahlian yang dikuasainya adalah menerjemahkan karya-karya ilmuwan Yunani kuno khususnya terkait bidang astronomi. 

Di antara literatur asing paling terkenal yang berhasil dia alih bahasakan ke dalam bahasa Arab, yakni karya yang berjudul Almagest karangan Ptolomeus. Al-Sufi tak sekadar menerjemahkan. Ia sekaligus mengkaji pemikiran Ptolomeus. Hasil penelitian itu ia tuangkan dalam sebuah buku yang menjadi karyanya yang terkemuka. 

Buku itu berjudul Kitab Suwar al-Awakib (the Book of the Constellations of the Fixed Stars). Sejatinya, buku Almagest merupakan rujukan penting yang digunakan sejumlah ahli astronomi Muslim di abad pertengahan. Penyempurnaan dilakukan di sana-sini, misal oleh al-Biruni. 

sumber : Mozaik Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA