Rabu 17 Dec 2025 13:20 WIB

Kisah Ilmuwan Muslim Penemu Kamera Lubang Jarum

Ibn al-Haitham meletakkan fondasi ilmiah cara mata manusia melihat.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Abu
Foto: About Islam
Abu

REPUBLIKA.CO.ID, Kamera yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern berawal dari pengamatan sederhana seorang ilmuwan Muslim 1000 tahun lalu. Melalui eksperimen cahaya di ruang gelap dan lubang kecil, al-Hasan ibn al-Haitham tidak hanya merintis kamera lubang jarum, tetapi juga meletakkan fondasi ilmiah tentang cara mata manusia melihat. Dari sinilah ilmu optika modern mulai menemukan pijakan rasional dan eksperimentalnya.

Seperti banyak filsuf dan matematikawan terkemuka lainnya, al-Hasan ibn al-Haitham yang hidup di abad ke-10 M adalah seorang pengamat yang tajam. Suatu hari ketika berada di dalam sebuah ruangan, ia memperhatikan cahaya yang masuk melalui sebuah lubang kecil pada penutup jendela. Cahaya itu jatuh ke dinding yang berhadapan, dan membentuk citra setengah bulan dari matahari saat terjadi gerhana.

Baca Juga

Kemudian Ibn al-Haitham berkata, “Citra matahari pada saat gerhana, selama tidak terjadi gerhana total, menunjukkan bahwa ketika cahayanya melewati lubang sempit berbentuk bulat dan diproyeksikan ke bidang yang berhadapan dengan lubang tersebut, cahaya itu mengambil bentuk sabit bulan.”

Dari eksperimen-eksperimen ini, ia menjelaskan bahwa cahaya merambat dalam garis lurus, dan ketika sinar-sinar dipantulkan dari suatu objek terang, sinar tersebut melewati lubang kecil itu dan tidak menyebar, melainkan saling bersilangan dan membentuk kembali sebuah gambar terbalik pada permukaan datar berwarna putih yang sejajar dengan lubang tersebut. Ia kemudian menetapkan bahwa semakin kecil lubangnya, semakin jelas pula gambar yang dihasilkan.

photo
Peserta mengikuti workshop memotret dengan kamera lubang jarum di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Ahad (7/12). (Republika/Agung Supriyanto) - ()

Kesimpulan eksperimentalnya adalah bahwa ketika sinar matahari mencapai dan menembus lubang tersebut, cahaya membentuk suatu bentuk kerucut pada titik pertemuan dengan lubang jarum, dan kemudian membentuk bentuk kerucut lain yang berlawanan arah dengan yang pertama pada dinding di seberang dalam ruangan gelap.

Pada tahapan selanjutnya, penemuan-penemuan ini mengarah pada ditemukannya kamera obscura, dan Ibn al-Haitham membangun kamera pertama dalam sejarah, yaitu kamera obscura atau kamera lubang jarum. Ia kemudian menjelaskan bahwa kita melihat objek dalam posisi tegak dan tidak terbalik seperti yang terjadi pada kamera, karena adanya hubungan antara saraf optik dan otak, yang menganalisis dan menafsirkan citra tersebut.

Selama eksperimen-eksperimen praktisnya, Ibn al-Haitham sering menggunakan istilah al-Bayt al-Muthlim, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai camera obscura, atau ruangan gelap, pribadi, atau tertutup. Kata camera masih digunakan hingga kini, sebagaimana kata gamara dalam bahasa Arab yang masih berarti ruangan pribadi atau gelap.

Banyak karya Ibn al-Haitham, terutama Book of Optics yang terbilang babon, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh sarjana abad pertengahan Gerard dari Cremona. Hal ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap para pemikir besar abad ke-13 seperti Roger Bacon dan Witelo, bahkan hingga mempengaruhi karya-karya Leonardo da Vinci pada abad ke-15.

Kini, kamera telah berkembang dari awal yang sederhana berupa ruangan depan gelap milik Ibn al-Haitham, gamara, menjadi sebuah proses digital yang canggih. Sementara itu, kajian optika telah berkembang menjadi sebuah cabang ilmu yang luas, mencakup laser, pencitraan optik pada retina manusia, serta penelitian tentang bioluminesensi merah pada ubur-ubur. Demikian dikutip dari buku 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World.

photo
Lensa kamera (ilustrasi) - (Republika TV/Fakhtar Khairon Lubis)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement