Sabtu 29 Jun 2019 12:19 WIB

Kecemasan dan Harapan

Di balik cemas itu, ada harapan yang menguatkan.

Takwa (ilustrasi).
Foto: alifmusic.net
Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Iu Rusliana

Dari Abu Sa'id al-Khudriy RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Bagaimana aku bisa bersenang-senang, padahal malaikat peniup sangkakala telah memasukkannya ke dalam mulut dan ia hanya menunggu izin, kapan ia diperintah untuk meniup sangkakalanya. "Berita ini sangat berat sekali didengar oleh para sahabat. Kemudian beliau bersabda, "Ucapkanlah, 'Hasbunallaahu wani'mal wakil' (Allah yang mencukupi kami dan Ia sebaik-baik yang menjamin)," (HR Tirmidzi).

Hadis tersebut menggambarkan betapa manusia memiliki rasa cemas. Namun, di balik cemas itu, ada harapan yang menguatkan. Cemas akan kehilangan harta, anak, istri, dan jabatan. Hal itu merupakan fitrah yang Allah SWT berikan agar selalu mawas diri dan lebih berani menjalani kehidupan. Rasa takut juga dihadirkan sebagai ujian agar manusia bersabar dan menjadikan Allah Yang Mahakuasa sebagai satu-satunya tempat memohon pertolongan.

Sebagaimana berfirman-Nya, "Dan sungguh Kami akan mengujimu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan dalam hal harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira terhadap orang-orang yang bersabar," (QS al-Baqarah: 155).

Aneh tentunya kalau rasa cemas itu hanya terkait duniawi. Sebagai Mukmin, hendaknya kita takut akan pedihnya sakaratul maut, beratnya azab kubur, siksa neraka, mati dalam keadaan yang buruk (mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada Allah SWT), hilangnya iman, dan lain sebagainya.

Dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Allah SWT. Selain itu, rasa takut inilah yang juga dapat mencegah keinginan untuk berbuat maksiat. Allah berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat," (QS al-Anbiya: 49).

Pada manusia juga terdapat pengharapan. Takut (khauf) dan harapan (roja') menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam diri manusia. Takut dan harapan sejati itu hanya kepada Allah SWT. Karena itu, saat dilanda takut, berprasangka baiklah kepada Allah SWT, hadirkan keberanian. Saat tumbuh harapan, berharaplah hanya kepada Yang Mahakuasa, berserah dirilah dan yakinlah bahwa usaha manusia hanyalah jalan, upaya memenuhi ikhtiar yang diwajibkan oleh-Nya.

Rasa harap yang paling utama adalah harapan diterimanya amal kebaikan, masuk ke surga, berjumpa dengan Allah Yang Maha Rah man dan Rahim, diampuni dosa, dijauhkan dari neraka, diberikan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, dan lain sebagainya. Rasa harap inilah yang dapat mendorong seseorang untuk tetap bertakwa meskipun sesekali dia terjatuh ke dalam kemaksiatan.

Tidak berputus asa untuk terus berusaha sekuat tenaga agar menjadi hamba yang taat. Berharap Allah SWT akan mengampuni dosanya, yaitu dengan jalan bertobat dari kesalahannya tersebut, tidak mengulanginya, dan memperbanyak melakukan amal kebaikan. Sebagaimana firman-Nya: "Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," (QS az-Zumar: 53).

Jika cemas hinggap, janganlah dibiarkan menguasai diri. Obatilah dengan harapan dan optimisme berbekal kebaikan sepenuh hati. "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami," (QS al- Anbiya': 90). ¦ 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement